Mangkunegaran Hidupkan Lagi Tradisi Berkuda Warisan Abad 19

Mangkunegaran Hidupkan Lagi Tradisi Berkuda Warisan Abad 19 (Foto: Ist)

SEMARANG, SemarangSatu.com – Derap kaki kuda yang terdengar di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton pada Minggu (10/5/2026) bukan sekadar suara perlombaan biasa. Bagi Mangkunegaran, dentuman langkah kuda tersebut membawa kembali ingatan panjang tentang sejarah, keprajuritan, dan budaya yang telah hidup sejak ratusan tahun silam.

Melalui ajang IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026, Mangkunegaran resmi menghidupkan kembali tradisi berkuda yang pernah menjadi bagian penting perjalanan sejarah mereka sejak abad ke-19.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara X mengatakan hubungan Mangkunegaran dengan dunia kuda memiliki akar yang sangat panjang.

“Sejarah berkuda ini dengan Mangkunegaran sangat panjang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak masa Legiun Mangkunegaran, unsur kavaleri dan artileri sudah menjadi bagian penting dalam sistem keprajuritan.

Bahkan kawasan Solo Balapan yang kini dikenal sebagai stasiun kereta api dahulu merupakan arena pacuan kuda pada era Mangkunegara IV sebelum dibangun jalur perkeretaapian.

Tidak hanya itu, di dalam lingkungan istana Mangkunegaran juga pernah terdapat arena berkuda dan stable kuda untuk kebutuhan keprajuritan.

Warisan sejarah itulah yang kini coba dihidupkan kembali.

Bagi Mangkunagara X, pacuan kuda bukan sekadar olahraga modern, melainkan bagian dari identitas budaya yang perlu dirawat dan diperkenalkan kembali kepada generasi muda.

Karena itu, penyelenggaraan Piala Raja Mangkunegaran pada 2026 terasa sangat spesial. Selain menjadi pertama kali digelar dalam kalender pacuan nasional, ajang tersebut juga bertepatan dengan peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269.

“Ini momen budaya yang bersejarah,” katanya.

Tak hanya berhenti pada penyelenggaraan event, Mangkunegaran juga mulai menyiapkan langkah lebih besar.

Mangkunagara X mengungkapkan pihaknya tengah merencanakan revitalisasi Gedung Kavaleri Artileri yang berada di sisi selatan kompleks Pura Mangkunegaran.

Bangunan tersebut dahulu merupakan stable kuda yang menjadi bagian penting aktivitas keprajuritan Mangkunegaran.

“Semoga nanti sekalian itu jalan,” ujarnya.

Ia bahkan membuka kemungkinan Mangkunegaran suatu saat memiliki stable dan kuda pacu sendiri.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kembali ekosistem olahraga berkuda di Indonesia.

Ajang Piala Raja Mangkunegaran sendiri digelar melalui kolaborasi antara Sarga.Co, PP Pordasi, dan Mangkunegaran.

Sebanyak 147 kuda dari 12 daerah ikut ambil bagian dalam 18 kelas perlombaan dengan total hadiah Rp600 juta.

Namun di balik sengitnya persaingan lintasan, tersimpan misi yang jauh lebih besar, yakni menghubungkan kembali sejarah panjang budaya berkuda Nusantara dengan kehidupan masyarakat modern hari ini.

Mangkunagara X percaya budaya tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu.

Budaya harus dihidupkan, dirasakan, dan dihadirkan kembali dalam bentuk karya yang relevan dengan zaman.

“Semoga dengan modal sejarah budaya ini kita bisa membuat karya-karya baru yang bermanfaat untuk masyarakat luas,” katanya.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *