SEMARANG, SemarangSatu.com – Kain tradisional Jawa terlihat di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Minggu (10/5/2026). Di tengah panas matahari dan hingar-bingar arena balap, penonton justru tampil elegan mengenakan kain batik, lurik, hingga beskap modern.
Pemandangan tersebut menjadi warna berbeda dalam ajang IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026. Jika pacuan kuda biasanya identik dengan gaya western atau atmosfer olahraga formal, kali ini nuansa budaya Jawa tampil begitu kuat dan membumi.
Konsep “berkain” sengaja diusung sebagai identitas utama Piala Raja Mangkunegaran perdana.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara X mengatakan kain bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan bagian dari identitas dan pengalaman budaya masyarakat Nusantara.
“Budaya adalah gaya hidup kita juga,” ujarnya.
Menurutnya, budaya tidak boleh hanya berhenti menjadi simbol seremoni atau museum masa lalu. Budaya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan terasa menyenangkan untuk dijalani.
Karena itu, Mangkunegaran mencoba menghadirkan pengalaman baru melalui pacuan kuda yang memadukan olahraga, hiburan, dan budaya dalam satu ruang bersama.
Menariknya, banyak pengunjung ternyata baru pertama kali mengenakan kain saat datang ke arena pacuan.
Namun suasana santai dan penuh hiburan membuat mereka merasa nyaman.
“Ternyata kembali ke identitas itu sangat menyenangkan,” kata Mangkunagara X.
Ia bahkan menyebut banyak anak muda merasa lebih percaya diri, lebih keren, hingga lebih anggun saat mengenakan kain tradisional.
“Banyak yang merasa keren juga, merasa cantik juga,” ujarnya sambil tersenyum.
Atmosfer budaya semakin terasa lewat opening ceremony yang menghadirkan tarian khas Mangkunegaran sebelum balapan dimulai.
Nuansa tradisional tersebut berpadu dengan konsep sportainment modern yang diusung penyelenggara.
Selain menyaksikan balapan 147 kuda dari 12 daerah, penonton juga menikmati area hiburan keluarga, kuliner, hingga es krim gratis yang dibagikan sepanjang acara.
Ketua Umum PP Pordasi Aryo Djojohadikusumo mengatakan konsep budaya seperti ini akan terus dikembangkan dalam pacuan kuda nasional.
Menurutnya, setiap daerah nantinya bisa menghadirkan karakter budaya berbeda.
“Kalau di Sumatera Utara mungkin nuansanya ulos. Kalau di Kalimantan bisa nuansa Kesultanan Kutai,” ujarnya.
Aryo menilai pacuan kuda modern harus tampil fleksibel, kreatif, dan dekat dengan generasi muda.
Karena itu, tema acara juga akan dibuat beragam. Jika kali ini mengusung budaya Jawa berkain, sebelumnya pacuan menghadirkan tema cowboy dan western.
Bahkan ia bercanda suatu saat pacuan kuda bisa saja memakai tema cosplay Jepang.
“Pacuan kuda itu harus fun dan bisa merangkul semua orang,” katanya.
Konsep tersebut tampaknya berhasil. Hingga siang hari, jumlah pengunjung sudah menembus lebih dari 17 ribu orang.
Angka itu menjadi bukti bahwa budaya lokal ternyata tetap mampu menarik perhatian publik jika dikemas secara kreatif dan modern.
Di Tegalwaton, kain tradisional tidak lagi terlihat kuno atau kaku. Sebaliknya, kain justru tampil sebagai simbol gaya hidup baru yang menyatu dengan hiburan masa kini.




