SEMARANG, SemarangSatu.com – Suara derap kaki kuda yang menghentak lintasan tanah Tegalwaton meninggalkan kesan bagi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara X. Bahkan di tengah popularitas Formula 1 dan MotoGP yang mendunia, Mangkunagara X justru menilai pacuan kuda memiliki sensasi yang lebih seru dan emosional.
Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri ajang IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Minggu (10/5/2026).
“Mungkin generasi saya senang nonton Formula 1, MotoGP. Saya rasa ini menurut saya lebih seru,” ujarnya.
Kalimat tersebut langsung menarik perhatian para tamu dan awak media yang hadir dalam konferensi pers.
Bukan tanpa alasan Mangkunagara X menyampaikan hal itu. Ia mengaku awalnya juga tidak memiliki ketertarikan besar terhadap pacuan kuda. Namun setelah beberapa kali hadir langsung di arena, ia merasakan atmosfer yang berbeda dibanding olahraga modern lainnya.
Menurutnya, pacuan kuda bukan hanya soal kecepatan di lintasan. Ada emosi, budaya, kedekatan sosial, hingga rasa memiliki dari masyarakat terhadap kuda-kuda unggulan daerah mereka masing-masing.
Ia melihat bagaimana masyarakat lokal begitu antusias mendukung jagoan dari daerahnya. Sorak-sorai penonton, teriakan di tribun, hingga suasana penuh ketegangan menjadikan pacuan kuda memiliki daya tarik unik yang sulit ditemukan di olahraga lain.
“Melihat semuanya nyengkuyung itu yang paling berharga,” katanya.
Dalam kejuaraan kali ini, sebanyak 147 kuda dari 12 daerah di Indonesia bertarung dalam 18 kelas berbeda.
Persaingan utama tersaji pada Kelas 3 Tahun Derby 1.600 meter Triple Crown Serie 2 yang menjadi bagian penting dalam perebutan gelar Triple Crown Indonesia 2026.
Sorotan tertuju pada Maxi of Khalim asal Jawa Barat yang sebelumnya sukses memenangi leg pertama Triple Crown.
Namun perjalanan Maxi tidak mudah. Ia harus menghadapi lawan-lawan kuat seperti Nara Eclipse dari Jawa Tengah, Monochrome dari Sulawesi Utara, hingga Sir Orbit dari Sumatera Barat.
Bagi Mangkunagara X, pacuan kuda juga memiliki makna filosofis yang kuat.
“Kuda itu simbol keberanian, ketangkasan, disiplin,” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut menurutnya sangat relevan untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda hari ini.
Karena itu, Mangkunegaran kini mulai serius terlibat dalam pengembangan ekosistem pacuan kuda nasional bersama PP Pordasi dan Sarga.Co.
Tidak hanya melalui event, Mangkunegaran bahkan berencana merevitalisasi Gedung Kavaleri Artileri di kompleks Pura Mangkunegaran yang dahulu menjadi stable kuda pada masa lampau.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali sejarah panjang budaya berkuda yang telah melekat dengan Mangkunegaran sejak abad ke-19.
Bagi Mangkunagara X, pacuan kuda bukan olahraga masa lalu yang usang. Sebaliknya, olahraga ini memiliki peluang besar menjadi hiburan modern yang mampu menyatukan budaya, sport, gaya hidup, hingga pariwisata dalam satu ekosistem baru yang menjanjikan.




