Terbongkar! Mantan Artis Jadi Senjata Terakhir Sindikat Penipuan Rp41,1 Miliar

Terbongkar! Mantan Artis Jadi Senjata Terakhir Sindikat Penipuan Rp41,1 Miliar (Foto: Taufik)

SEMARANG, SemarangSatu.com – Di balik keberhasilan sindikat penipuan online internasional meraup keuntungan hingga Rp41,1 miliar, terdapat satu sosok yang memiliki peran berbeda dari anggota jaringan lainnya. Ia bukan marketing, bukan pula pimpinan kelompok. Perempuan itu bertugas tampil di depan kamera untuk meyakinkan korban yang mulai ragu.

Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah mengungkap, jaringan penipuan bermodus pig butchering yang beroperasi di Solo Raya ternyata mempekerjakan seorang perempuan berinisial F yang berperan sebagai model. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam skema penipuan yang menyasar warga negara Amerika Serikat.

Direktur Reserse Siber Polda Jateng Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengatakan sebagian besar anggota jaringan yang bertugas merayu korban sebenarnya tidak menggunakan identitas asli. Mereka beroperasi menggunakan akun palsu dan berpura-pura menjadi perempuan.

“Marketing itu tugasnya dia berpura-pura menjadi wanita. Jadi marketing itu bisa laki-laki bisa perempuan, tapi lebih banyak laki-laki,” ujar Himawan saat konferensi pers di Mapolda Jateng, Senin (1/6/2026).

Penyidik menemukan bahwa para marketing bertugas membangun hubungan emosional dengan korban melalui aplikasi kencan dan media sosial. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk membuat korban percaya bahwa hubungan tersebut nyata.

Namun masalah muncul ketika korban meminta pembuktian secara langsung melalui panggilan video. Jika salah langkah, identitas palsu yang dibangun selama ini bisa terbongkar.

Untuk mengatasi kondisi itu, sindikat tersebut menyiapkan seorang model perempuan yang bertugas menggantikan sosok yang selama ini diperkenalkan kepada korban.

“Apabila korban butuh keyakinan maka yang tampil bukan marketing tapi model,” kata Himawan.

Model tersebut menjadi lapisan terakhir dalam operasi penipuan. Saat korban mulai curiga atau meminta melihat wajah lawan bicaranya, jaringan langsung menghubungkan korban dengan perempuan yang memang disiapkan khusus untuk tampil di depan kamera.

Menurut Himawan, tugas perempuan berinisial F itu bukan sekadar meminjamkan foto untuk profil media sosial. Ia benar-benar melakukan video call secara langsung dengan korban.

“Model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang diinginkan korban,” jelasnya.

Dalam praktiknya, video call tersebut digunakan untuk memperkuat kepercayaan korban. Dengan melihat sosok perempuan secara langsung, korban semakin yakin bahwa hubungan yang dijalani selama ini bukan rekayasa.

Padahal di balik layar, komunikasi sehari-hari tetap dijalankan oleh para marketing yang menggunakan identitas palsu. Model hanya muncul pada momen-momen tertentu ketika dibutuhkan untuk memperkuat manipulasi.

Penyidik mengungkapkan bahwa model tersebut tidak bekerja secara spontan. Sebelum melakukan panggilan video, ia telah mendapatkan arahan mengenai apa yang harus disampaikan kepada korban.

“Nah, pada saat si korban itu akan melihat wajahnya si orang wanita itu, maka yang muncul adalah model. Dan model itu sudah disiapkan skripnya,” ungkap Himawan.

Artinya, setiap percakapan yang terjadi saat video call sudah menjadi bagian dari skenario yang disusun jaringan. Tujuannya hanya satu, yakni membuat korban semakin percaya dan bersedia menanamkan dana dalam jumlah besar.

Dalam penggerebekan yang dilakukan di Solo Raya, polisi juga menemukan sejumlah barang yang berkaitan dengan aktivitas model tersebut. Salah satunya adalah meja rias yang digunakan untuk menunjang penampilan saat berinteraksi dengan korban.

Barang bukti itu ikut diamankan bersama ratusan telepon genggam, komputer, monitor, dan perlengkapan operasional lainnya.

“Nah, ini meja riasnya yang digunakan oleh model,” kata Himawan saat menunjukkan barang bukti kepada wartawan.

Keberadaan meja rias itu memperlihatkan bahwa peran model bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi bagian penting dari operasi penipuan yang dirancang secara profesional.

Penyidik juga menemukan bahwa model memiliki ruang tersendiri yang terpisah dari anggota jaringan lainnya. Sistem tersebut dibuat untuk menjaga kerahasiaan dan membatasi informasi yang diketahui masing-masing anggota.

“Dia punya ruangan tersendiri. Dia tidak kenal dengan tim-tim marketing yang lain. Dia punya privacy-nya sendiri,” ujar Himawan.

Fakta lain yang terungkap adalah latar belakang perempuan tersebut. Meski tidak mengungkap identitas lengkapnya, Himawan memastikan bahwa model yang diamankan berasal dari dunia hiburan.

“Yang jelas model dari mantan artis,” katanya.

Keterangan itu menjadi salah satu fakta yang paling menyita perhatian dalam pengungkapan kasus tersebut. Sebab, jaringan penipuan internasional ternyata memanfaatkan sosok yang memiliki kemampuan tampil di depan kamera untuk meningkatkan kepercayaan korban.

Polisi menduga kehadiran model menjadi salah satu faktor yang membuat para korban rela menyetor uang dalam jumlah besar. Dengan melihat sosok perempuan secara langsung melalui video call, korban merasa hubungan yang terjalin benar-benar nyata.

Padahal seluruh proses tersebut merupakan bagian dari skenario yang telah disiapkan untuk mengarahkan korban ke investasi kripto palsu yang dikendalikan jaringan.

Kasus ini menunjukkan bahwa sindikat penipuan online modern tidak lagi hanya mengandalkan akun palsu dan pesan teks. Mereka bahkan membangun sistem kerja menyerupai perusahaan dengan pembagian tugas yang rinci, termasuk menyiapkan model khusus untuk memperkuat manipulasi terhadap korban.

Dari hasil penyidikan, jaringan tersebut diketahui telah meraup keuntungan sekitar 2.327.625,85 dolar Amerika Serikat atau setara Rp41,1 miliar sejak beroperasi pada Juli 2025 hingga Mei 2026. Sebagian besar korbannya merupakan warga negara Amerika Serikat yang dijaring melalui aplikasi kencan dan media sosial.

Pengungkapan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa kejahatan digital kini semakin kompleks. Identitas yang muncul di layar video call sekalipun belum tentu merupakan orang yang sebenarnya berkomunikasi dengan korban setiap hari.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *