SRAGEN, SemarangSatu.com — Kerja keras Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen, mendapat dukungan semesta. Ada satu faktor yang tak terlihat namun sangat menentukan: alam yang seolah ikut berpihak.
Di Desa Puro, proses pengecoran jalan tidak hanya bergantung pada tenaga manusia dan alat, tetapi juga pada ketersediaan sumber air yang berada sangat dekat dari lokasi pekerjaan.
Bagi proyek konstruksi, air bukan sekadar pelengkap. Ia adalah elemen utama. Tanpa pasokan air yang cukup, campuran beton tidak akan terbentuk sempurna, dan pekerjaan bisa tersendat.
Namun di lokasi TMMD ini, situasinya justru sebaliknya.
Sumber air yang mudah dijangkau membuat proses pengambilan berjalan cepat. Ember demi ember air tak perlu diangkut dari jarak jauh. Waktu kerja pun tidak terbuang.
Ritme pengecoran menjadi stabil. Pekerjaan yang biasanya terhambat logistik justru bisa dipacu lebih cepat.
Sertu Sunardi, anggota Satgas TMMD, merasakan langsung dampaknya di lapangan.
“Air sangat dibutuhkan untuk campuran semen dan material cor. Alhamdulillah, di lokasi ini sumber air dekat sehingga pekerjaan bisa berjalan lancar dan lebih efisien,” ujarnya.
Ucapan itu bukan sekadar formalitas. Di banyak proyek desa, persoalan air kerap menjadi kendala klasik—terutama saat memasuki musim kemarau.
Ketika sumber air jauh, pekerjaan harus menunggu. Ketika pasokan terbatas, kualitas cor bisa terpengaruh.
Namun di Desa Puro, kondisi itu tidak terjadi.
Air tersedia, dekat, dan cukup. Kombinasi yang jarang, tetapi sangat menentukan.
Tak hanya untuk pengecoran, sumber air tersebut juga menjadi penopang aktivitas lain di lapangan. Para personel Satgas dan warga menggunakannya untuk membersihkan peralatan, mencuci, hingga sekadar menyegarkan diri di tengah panasnya cuaca.
Karena di balik proyek fisik, ada faktor manusia yang juga harus dijaga—tenaga, stamina, dan semangat.
Di titik ini, peran warga tak kalah penting.
Masyarakat Desa Puro turun langsung ke lapangan. Mereka membantu, mengangkut material, hingga terlibat dalam gotong royong yang menjadi ciri khas TMMD.
Seorang warga mengaku merasa beruntung karena desanya memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan bersama.
“Dengan adanya TMMD ini, kami merasa sangat terbantu. Apalagi sumber air di desa bisa dimanfaatkan bersama untuk memperlancar pekerjaan,” ujarnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan satu hal: pembangunan desa bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga proses kebersamaan.
TMMD memang tidak hanya membangun jalan. Ia membangun hubungan antara TNI dan masyarakat.
Ia menghidupkan kembali semangat gotong royong yang mulai jarang terlihat di beberapa tempat.
Dan di Desa Puro, semangat itu berpadu dengan dukungan alam.
Jalan yang kini tengah dicor bukan sekadar jalur penghubung. Ia adalah akses bagi petani untuk membawa hasil panen, bagi warga untuk bergerak lebih cepat, dan bagi desa untuk berkembang.
Sebelumnya, kondisi jalan yang terbatas sering menjadi hambatan. Distribusi hasil pertanian tidak efisien, mobilitas warga terhambat.




