Gen Z, Ayo Tanam Kakao! Bisa Cuan dari Kebun dan Gadget

 

SEMARANG, semarangsatu.com – Bertani kini tak lagi identik dengan pekerjaan berat dan kuno. Di tangan generasi muda, sektor pertanian justru berubah menjadi ladang cuan yang menjanjikan, salah satunya melalui komoditas kakao.

Melalui konsep smart agroforestry, generasi Z diajak untuk melihat pertanian sebagai ekosistem bisnis modern yang tidak hanya mengandalkan satu komoditas, tetapi memadukan berbagai tanaman dalam satu lahan yang saling mendukung.

Direktur PSLB INSTIPER, Dr. Ir. Agus Setyarso, M.Sc., menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan sekaligus, mulai dari ekonomi, lingkungan hingga ketahanan terhadap bencana.

“Smart agroforestry itu bukan hanya soal tanam kakao saja, tetapi bagaimana kita mengombinasikan dengan komoditas lain seperti kopi, kelapa, karet hingga tanaman kehutanan. Semua saling mendukung dan menciptakan nilai ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, konsep ini juga dirancang agar cocok dengan karakter generasi Z. Bukan sekadar mencari kekayaan, tetapi bagaimana mereka bisa tetap menikmati hidup sambil menghasilkan uang.

“Generasi muda itu ingin hidup nyaman, bisa nongkrong di kafe, traveling, dan tetap punya penghasilan. Nah, itu yang kita jawab lewat sistem ini,” jelasnya.

Tak hanya dari kebun, peluang cuan juga datang dari teknologi. Generasi muda didorong memanfaatkan gadget tidak sekadar untuk hiburan, tetapi sebagai alat produksi ekonomi, mulai dari pemasaran hingga pembuatan konten.

“Sekarang jualan kakao bisa lewat TikTok, bisa langsung ke pasar global. Bahkan ada yang bisa dapat omzet besar hanya dari penjualan online,” ungkap Agus.

Lebih jauh, generasi Z juga diajarkan memahami rantai bisnis kakao secara menyeluruh. Tidak hanya menjual biji mentah, tetapi juga mengolah, mengeringkan, hingga memasarkan produk bernilai tinggi.

Pendekatan ini dinilai penting, mengingat selama ini banyak petani hanya menjual kakao mentah dengan harga rendah. Padahal, nilai ekonomi bisa meningkat drastis jika produk diolah dengan baik.

Regional Director CIRAD untuk Asia Tenggara, Jean-Marc Roda, menyebut Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar sebagai produsen kakao dunia. Namun, sebagian besar masih berada di pasar massal dengan nilai tambah rendah.

“Jika petani mampu meningkatkan kualitas, misalnya melalui fermentasi yang baik, mereka bisa masuk ke pasar premium dengan harga yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran generasi muda Indonesia yang dinilai sangat inovatif, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital untuk sektor pertanian.

Dengan kombinasi pertanian, teknologi, dan kreativitas konten, kakao kini bukan sekadar komoditas perkebunan. Bagi generasi Z, kakao bisa menjadi jalan baru menuju kemandirian ekonomi yang lebih modern dan berkelanjutan.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *