SEMARANG, SemarangSatu.com – Kesuksesan penyelenggaraan IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026 ternyata bukan menjadi akhir perjalanan bagi PP Pordasi. Organisasi olahraga berkuda nasional itu justru tengah menyiapkan langkah yang jauh lebih besar, yakni membawa konsep Piala Raja ke berbagai daerah di Nusantara.
Ketua Umum PP Pordasi Aryo Djojohadikusumo mengatakan Piala Raja Mangkunegaran menjadi titik awal lahirnya tradisi baru dalam pacuan kuda nasional.
Jika selama ini publik hanya mengenal Piala Raja Hamengkubuwono di Yogyakarta, kini tradisi tersebut mulai diperluas ke Surakarta melalui Mangkunegaran.
“Tahun ini kita mulai bukan hanya di daerah istimewa Yogyakarta, tetapi juga di Surakarta,” ujarnya.
Namun rencana Pordasi tidak berhenti di Jawa.
Aryo mengungkapkan pihaknya telah menyiapkan ekspansi King’s Cup Series ke berbagai daerah lain seperti Kalimantan hingga Sumatera.
“Insyaallah tahun-tahun ke depannya nanti kita juga buat di Kalimantan, di Sumatera, dan berbagai daerah Nusantara,” katanya.
Menurut Aryo, setiap daerah nantinya akan membawa identitas budaya masing-masing sehingga pacuan kuda tampil lebih kaya dan berwarna.
Jika di Mangkunegaran nuansanya berkain dan budaya Jawa, maka daerah lain juga akan menghadirkan ciri khas lokal mereka sendiri.
“Kalau di Sumatera Utara mungkin nuansanya ulos. Kalau di Kalimantan bisa kerja sama dengan Kesultanan Kutai,” ujarnya.
Konsep tersebut menurutnya menjadi cara baru memperkenalkan pacuan kuda kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Pacuan kuda tidak lagi hanya berbicara soal kompetisi lintasan, tetapi juga pengalaman budaya dan hiburan.
Aryo menilai olahraga berkuda di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang seperti event-event internasional terkenal.
Ia bahkan menyebut konsep tersebut terinspirasi dari Royal Ascot di Inggris yang memadukan balapan elite dengan budaya dan fashion.
“Kita jangan kalah sama luar negeri,” kata Ketua Komisi Pacu PP Pordasi, Munawir.
Dalam penyelenggaraan di Tegalwaton, konsep sportainment budaya memang terlihat sangat menonjol.
Selain menyajikan persaingan 147 kuda dari 12 provinsi, arena juga dipenuhi unsur hiburan keluarga, pertunjukan budaya, hingga konsep berpakaian berkain yang menjadi identitas utama acara.
Antusiasme masyarakat pun meledak. Hingga siang hari jumlah pengunjung tercatat mencapai lebih dari 17 ribu orang.
Bagi Aryo, angka tersebut menjadi bukti bahwa pacuan kuda memiliki masa depan cerah jika dikemas dengan pendekatan kreatif dan modern.
Ia mengakui membangun event sebesar Piala Raja bukan perkara mudah karena membutuhkan konsep, visi, hingga dukungan sponsor.
“Ngomong gampang, melaksanakannya beda,” ujarnya sambil tertawa.
Namun menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan perdana Piala Raja Mangkunegaran menunjukkan bahwa kolaborasi budaya, olahraga, dan hiburan ternyata mampu menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar.
Ke depan, Pordasi ingin menjadikan pacuan kuda sebagai panggung bersama yang dapat menghidupkan ekonomi, pariwisata, dan kebudayaan daerah.
“Pacuan kuda itu harus fun, seru, dan merangkul semua orang,” katanya.




