SEMARANG, SemarangSatu.com — Kawasan Rawa Pening selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata alam di Kabupaten Semarang. Namun di balik hamparan rawa yang luas, muncul berbagai potensi ekonomi kreatif yang terus berkembang di tangan pelaku UMKM lokal.
Salah satunya datang dari UMKM Makmur Abadi yang dikelola Erna Rohayati di wilayah Tuntang.
Melalui usaha rumahan tersebut, Erna berhasil mengolah berbagai bahan alami menjadi produk camilan tradisional yang memiliki nilai ekonomi sekaligus edukasi bagi masyarakat.
Produk unggulan Makmur Abadi adalah aneka tumpi sayuran, camilan renyah khas Nusantara yang sekilas mirip rempeyek namun memiliki cita rasa dan bahan baku berbeda.
Berbagai jenis daun dan sayuran segar dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan tumpi.

Mulai dari daun kelor, daun pepaya, daun singkong, daun seledri, hingga daun markisa diolah menjadi camilan gurih dengan tekstur renyah.
Selain varian sayuran, Makmur Abadi juga memproduksi tumpi dengan tambahan teri, rebon, kacang hijau, dan kacang tanah.
Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri dari rumah produksi milik Erna untuk menjaga kualitas rasa sekaligus kebersihan produk.
Dalam sehari, UMKM tersebut mampu memproduksi sekitar 60 bungkus tumpi untuk dipasarkan ke berbagai wilayah.
Menurut Erna, penggunaan bahan alami menjadi salah satu daya tarik produknya karena masyarakat kini mulai mencari camilan tradisional yang lebih sehat.
“Untuk memajukan kualitas UMKM, kami rutin mengikuti berbagai pelatihan termasuk pembinaan langsung dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Semarang,” ujar Erna Rohayati.
Ia menjelaskan pembinaan tersebut membantu pelaku UMKM memahami pentingnya legalitas usaha, standar produksi, hingga teknik pengemasan modern agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Sebagai anggota Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) Kabupaten Semarang, Erna juga aktif mengikuti berbagai pelatihan pengembangan usaha dan pemberdayaan perempuan.

Tidak hanya fokus pada kuliner, Makmur Abadi juga berkembang menjadi tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat yang ingin belajar proses produksi UMKM.
Anak-anak sekolah hingga kelompok kunjungan sering datang langsung ke lokasi untuk melihat proses pembuatan tumpi sayuran.
Pengunjung diperkenalkan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pencampuran adonan, hingga tahap penggorengan dan pengemasan produk.
Suasana belajar dibuat sederhana agar anak-anak lebih mudah memahami bagaimana produk UMKM lokal diproduksi secara higienis.
Keunikan lain dari Makmur Abadi adalah pemanfaatan eceng gondok yang melimpah di kawasan Rawa Pening.
Tanaman yang selama ini dianggap gulma tersebut diolah menjadi berbagai kerajinan tangan bernilai ekonomi.
Melalui pembinaan dan kreativitas warga sekitar, eceng gondok diubah menjadi aneka produk kerajinan seperti gantungan kunci, tas, hiasan, dan aksesoris rumah tangga.

Aktivitas tersebut sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan rawa.
Bagi Erna, potensi lokal harus dimanfaatkan secara maksimal agar mampu memberikan nilai tambah bagi warga sekitar.
Ia berharap UMKM lokal di Kabupaten Semarang semakin berkembang dan mampu menjadi penggerak ekonomi kreatif daerah.
Perpaduan inovasi kuliner tradisional, edukasi UMKM, dan kerajinan eceng gondok menjadikan Makmur Abadi sebagai salah satu contoh pengembangan potensi lokal berbasis masyarakat di kawasan Rawa Pening.

