SRAGEN, SemarangSatu.com – Di teras rumah bernomor 59 di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, suasana hangat terlihat begitu jelas. Seorang prajurit TNI berseragam loreng berdiri sambil menggendong seorang bocah kecil, sementara sang ibu muda duduk di kursi memperhatikan dengan tatapan seksama.
Tak ada rasa canggung. Bocah kecil itu justru terlihat nyaman dalam pelukan tentara yang sejak pagi sibuk bekerja di lokasi TMMD Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen.
Pemandangan sederhana itu menjadi sisi lain dari kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa. Di balik pekerjaan berat pengecoran jalan dan target pembangunan yang harus selesai tepat waktu, ada rasa rindu yang diam-diam dibawa para prajurit dari rumah.
Sebagian dari mereka telah berhari-hari meninggalkan keluarga. Jauh dari anak, istri, dan suasana rumah membuat momen kecil seperti menggendong anak warga terasa begitu berarti.
Usai menjalankan aktivitas pembangunan fisik di lokasi TMMD, beberapa personel Satgas memang kerap menyempatkan diri berkeliling kampung dan berinteraksi dengan warga.
Anak-anak menjadi yang paling cepat akrab. Mereka awalnya hanya melihat dari kejauhan, penasaran dengan bapak-bapak berseragam loreng yang bekerja di jalan desa.
Namun perlahan, rasa malu itu hilang. Mereka mulai mendekat, diajak bercanda, hingga akhirnya nyaman bermain bersama.
Salah satunya terlihat pada Praka Alfian. Ia mengaku, bermain dengan anak-anak desa menjadi cara paling sederhana untuk mengobati rasa rindu pada keluarga di rumah.
Apalagi saat seorang bocah kecil mau dipeluk dan digendong, perasaan itu seperti membawa suasana rumah hadir kembali.
“Sekadar bercanda gurau, meskipun masih malu-malu, namun mereka terlihat cukup akrab,” ujar Praka Alfian, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, anak-anak Desa Puro memiliki kepolosan yang membuat lelah terasa cepat hilang. Tawa mereka menjadi penyemangat setelah seharian bergelut dengan semen, pasir, dan material pembangunan.
Bagi warga, pemandangan itu juga menunjukkan bahwa prajurit TNI bukan hanya datang sebagai pelaksana pembangunan, tetapi juga bagian dari keluarga besar desa selama TMMD berlangsung.
Ibu pemilik rumah pun tampak santai membiarkan anaknya digendong. Kepercayaan itu tumbuh karena hubungan yang sudah terjalin baik antara Satgas TMMD dan masyarakat.
Di balik wajah tegas dan tubuh tegap para tentara, tersimpan hati yang lembut dan penuh kasih.
Mereka mungkin datang untuk membangun jalan, tetapi di sela pekerjaan itu, mereka juga sedang merawat rindu yang dibawa dari rumah.
Dan di Desa Puro, pelukan seorang bocah kecil menjadi obat paling sederhana bagi seorang prajurit yang sedang kangen anaknya sendiri.




