Mahasiswa KKN UNDIP Tanam Mangrove di Tambak Lorok, Perkuat Benteng Pesisir Semarang dari Abrasi dan Rob
SEMARANG, SemarangSatu.com – Upaya menjaga kawasan pesisir utara Kota Semarang dari ancaman abrasi, banjir rob, dan dampak perubahan iklim terus dilakukan melalui berbagai kolaborasi. Salah satunya diwujudkan Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 16 Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan menggelar aksi penanaman mangrove di kawasan konservasi Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa KKN-T IDBU 16 UNDIP, masyarakat pesisir, serta komunitas Lindungi Hutan yang menyediakan bibit sekaligus memberikan pendampingan teknis selama proses penanaman. Program ini juga didampingi tiga Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Robetmi Jumpakita Pinem, S.AB., M.B.A., Ph.D., Dinalestari Purbawati, S.E., M.Si., Akt., dan Yudi Eko Windarto, S.T., M.Kom.

Dalam kegiatan itu, ratusan bibit mangrove ditanam menggunakan tiga jenis utama, yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Avicennia marina. Ketiga spesies tersebut dipilih karena memiliki daya adaptasi tinggi di kawasan pesisir sekaligus berperan penting dalam menjaga stabilitas garis pantai dari ancaman abrasi.
Dosen Pembimbing Lapangan, Robetmi Jumpakita Pinem, mengatakan penanaman mangrove merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kawasan pesisir. Menurutnya, mangrove memiliki peran strategis sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon yang mampu membantu mengurangi dampak perubahan iklim.
“Ekosistem mangrove merupakan salah satu penyerap karbon alami terbesar atau blue carbon. Kemampuannya menyimpan karbon pada batang, akar, hingga sedimen menjadikan mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Di sisi lain, mangrove juga menjadi benteng alami yang mampu mengurangi dampak abrasi dan banjir rob di kawasan pesisir,” ujarnya.
Selain menyerap karbon, hutan mangrove memiliki sistem perakaran yang rapat sehingga mampu meredam energi gelombang laut, menahan sedimen, serta menjaga garis pantai tetap stabil. Keberadaan mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan biota laut lainnya yang mendukung keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Tak hanya melakukan penanaman mangrove, mahasiswa KKN-T IDBU 16 UNDIP juga melaksanakan observasi di kawasan Seawall RW 15 dan RW 16 Tambak Lorok. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kajian mengenai adaptasi perubahan iklim dan pengembangan kawasan pesisir yang berkelanjutan.
Dosen Pembimbing Lapangan, Dinalestari Purbawati, menjelaskan keterlibatan mahasiswa dalam program tersebut bertujuan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar memahami persoalan lingkungan dari sisi akademik, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana kolaborasi dengan masyarakat dapat menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi kawasan pesisir. Pendampingan ini menjadi bagian dari penguatan sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendukung upaya mitigasi maupun adaptasi perubahan iklim,” katanya.

Kawasan Seawall Tambak Lorok sendiri kini berkembang tidak hanya sebagai tanggul penahan gelombang, tetapi juga menjadi ruang publik dan destinasi wisata yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Di RW 15, kawasan tersebut menjadi lokasi favorit menikmati panorama matahari terbenam serta wisata susur laut yang dikelola nelayan. Sementara itu, Seawall RW 16 menawarkan hamparan pasir dan kawasan mangrove yang menjadi daya tarik wisata keluarga.
Menurut Dosen Pembimbing Lapangan, Yudi Eko Windarto, pelestarian lingkungan akan memberikan manfaat lebih luas apabila diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pelestarian mangrove tidak hanya menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga membuka peluang pengembangan UMKM, wisata edukasi, hingga ekowisata berbasis konservasi. Inilah bentuk kolaborasi yang kami dorong, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, komunitas lingkungan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan, kawasan Tambak Lorok diharapkan semakin berkembang sebagai desa wisata pesisir yang tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.




