Quaneisha Bilqis, Hafal 30 Juz Alquran dalam 1,5 Tahun dan Setor Sekali Duduk

Quaneisha Bilqis, Hafal 30 Juz Alquran dalam 1,5 Tahun dan Setor Sekali Duduk (Foto: Taufik)

 

SEMARANG, SemarangSatu.com – Di usia 19 tahun, Quaneisha Bilqis Adlina berhasil menorehkan prestasi yang tidak mudah dicapai banyak orang. Santri MTs-MA Al Burhan Hidayatullah Semarang itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam Wisuda Akbar Tahfiz dan Tasmi’ Angkatan V yang digelar Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama Yayasan Al Burhan, Sabtu (20/6/2026).

Prestasi tersebut diraih setelah Bilqis berhasil menghafal 30 juz Alquran hanya dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Tak hanya itu, ia juga mampu menyetorkan hafalan 30 juz secara bil ghaib dalam sekali duduk, sebuah capaian yang menjadi kebanggaan lembaga pendidikan tempatnya menimba ilmu selama enam tahun.

Bilqis mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya dapat menuntaskan hafalan Alquran hingga 30 juz.

“Saya tidak pernah menyangka bahwa saya dapat merentaskan hafalan saya 30 juz sekali duduk bil ghaib atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.

Perjalanan menuju capaian tersebut tidak selalu mudah. Perempuan asal Tembalang, Kota Semarang, itu mengaku beberapa kali berada di titik terendah dan sempat ingin menyerah.

“Selama proses menghafal saya pernah beberapa kali berputus asa dan ingin menyerah karena beberapa tekanan yang terlalu berlebih untuk saya,” katanya.

Namun dukungan guru, ustaz, ustazah, serta doa kedua orang tuanya menjadi kekuatan yang membuatnya tetap bertahan.

“Tetapi saya selalu ingat motivasi dari guru saya, ustaz-ustazah saya dan ada doa dari kedua orang tua yang membuat saya tetap semangat,” tuturnya.

Bilqis mengungkapkan, salah satu kunci keberhasilannya adalah menjaga niat dan memanfaatkan waktu-waktu terbaik untuk menghafal.

Menurutnya, waktu paling efektif untuk menambah hafalan adalah setelah salat Isya, menjelang Subuh, dan sekitar pukul 02.45 dini hari.

“Kalau saya sendiri biasanya di jam 2.45 malam, setelah salat Isya dan setelah Subuh itu adalah waktu terbaik untuk menghafal,” ujarnya.

Ia menegaskan, menghafal Alquran tidak boleh semata-mata mengejar prestasi dunia atau pujian manusia.

“Yang pasti hafalan itu benar-benar harus diniatkan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan karena urusan dunia atau pujian manusia,” katanya.

Bilqis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Saat masuk pesantren, ia baru memiliki hafalan sekitar satu setengah juz.

Selama menempuh pendidikan di Al Burhan Hidayatullah, hafalannya terus berkembang hingga akhirnya berhasil menyelesaikan 30 juz.

Selain unggul dalam hafalan, Bilqis juga berhasil melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa tahfiz.

Setelah sempat gagal dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan tidak lolos seleksi kedokteran yang diimpikannya, ia akhirnya diterima di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).

“Alhamdulillah saya bisa keterima dengan full beasiswa,” katanya.

Di kampus tersebut, Bilqis memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.

Baginya, pencapaian saat ini bukanlah akhir perjalanan. Ia berharap dapat terus menjaga hafalan Alquran sepanjang hidupnya dan menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Terima kasih atas ilmu yang sangat bermanfaat yang telah diberikan kepada saya. Alhamdulillah selama enam tahun saya menuntut ilmu di Al Burhan memberikan banyak sekali manfaat untuk hidup saya,” ujarnya.

Kepala MA Al Burhan Hidayatullah Semarang, Eko Zainuri, menyebut Bilqis sebagai salah satu santri yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam program tahfiz.

“Bilqis ini termasuk anak yang luar biasa,” katanya.

Menurut Eko, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sistem pendidikan pesantren yang mengintegrasikan kegiatan sekolah dengan pembinaan tahfiz secara intensif.

Santri program tahasus seperti Bilqis mendapatkan porsi khusus untuk fokus menghafal Alquran, sementara pendidikan akademik tetap berjalan.

Kegiatan menghafal dilakukan setiap hari dari pagi hingga malam dengan pendampingan para pembina tahfiz.

“Mulai menghafalnya itu mulai pagi sampai malam. Jadi bukan cuma di sekolah saja, nanti ketika di pesantren itu integral antara pesantren, madrasah dan itu di bawah langsung bimbingan Ustazah Rumayyah,” ujar Eko.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *