JAKARTA, semarangsatu.com – Keraguan ternyata bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan menjadi kuat—itulah benang merah yang disuarakan para tokoh perempuan Indonesia dalam momentum Hari Kartini 2026.
Dalam forum reflektif bertajuk “Her Strength, Her Light: A Journey through Doubt, Growth, and Becoming”, ParagonCorp menghadirkan nama-nama besar seperti Retno Marsudi, Susy Susanti, Nikita Willy, Nadia Habibie, hingga dr. Sari Chairunnisa, yang berbagi cerita personal tentang perjalanan, tekanan, dan titik rapuh yang pernah mereka alami.

Alih-alih tampil sebagai sosok tanpa cela, para tokoh ini justru membuka sisi paling manusiawi: rasa tidak cukup, ragu, hingga tekanan ekspektasi publik yang kerap menghantui perempuan di berbagai bidang.
Deputy CEO ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, mengungkapkan bahwa fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan realitas yang dialami mayoritas perempuan.
“Sebanyak 83 persen perempuan ingin berkembang, tetapi hanya sekitar 30 persen yang percaya diri untuk melangkah,” ujarnya, mengutip hasil riset Mestara 2025.

Bagi Menteri Luar Negeri RI periode sebelumnya, Retno Marsudi, pertanyaan “apakah saya sudah cukup?” justru menjadi bahan bakar untuk terus melangkah lebih jauh, bukan alasan untuk berhenti.
Sementara legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti, menekankan bahwa tekanan di dunia yang didominasi laki-laki justru membentuk daya tahan mental dan tekad untuk membuka jalan bagi perempuan lain.

Di sisi lain, Nikita Willy yang hidup dalam sorotan publik menyoroti pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri di tengah derasnya penilaian sosial.
“Di setiap fase kehidupan, saya belajar untuk tetap konsisten dengan diri sendiri,” ungkapnya.
Cerita-cerita ini memperlihatkan bahwa kekuatan perempuan tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian menghadapi keraguan yang terus datang.




