Ibu-Ibu GWS Mendadak Catwalk, Wakil Bupati dan DPRD Kompak Patungan Hadiah

 

SEMARANG, semarangsatu.com – Panggung fashion tak selalu milik anak muda. Peringatan Hari Kartini yang digelar Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) Kabupaten Semarang justru menghadirkan kejutan, saat para perempuan usia matang tampil penuh percaya diri dalam fashion show dadakan, Jumat (24/4/2026).

Momen tak terduga itu terjadi usai Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah, membacakan sambutan Bupati dan melanjutkan tausiyah tentang makna halalbihalal serta semangat Kartini di PLUT Kabupaten Semarang, Tuntang.

Dalam tausiyahnya, Arifah menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan, bukan hanya di ranah keluarga, tetapi juga di tengah masyarakat luas.

“Keluwesan dalam memakai kain dan kebaya, saya yakin ibu-ibu ini merupakan cerminan dalam melanjutkan perjuangan Kartini. Perjuangannya luar biasa, yaitu terus belajar, berkarya, dan berdaya,” ujar Arifah.

Suasana yang awalnya khidmat perlahan berubah hangat ketika sejumlah anggota Komisi D DPRD Kabupaten Semarang hadir di tengah acara. Kehadiran mereka langsung disambut antusias, terlebih saat turut memberikan ucapan selamat Hari Kartini kepada para peserta.

Namun, suasana berubah drastis ketika Arifah secara spontan melontarkan ajakan sederhana. Ia meminta seluruh peserta yang mengenakan kebaya untuk maju ke depan mengikuti fashion show.

Ajakan tersebut langsung disambut salah satu anggota DPRD perempuan yang lebih dulu memberikan contoh berjalan di “catwalk” sederhana. Aksi itu sontak memancing peserta lain untuk ikut ambil bagian.

Satu per satu ibu-ibu yang sebagian besar telah memasuki usia matang maju dengan langkah mantap. Mereka tampil berlenggak-lenggok penuh percaya diri di hadapan juri dadakan yang terdiri dari Wakil Bupati dan para anggota DPRD.

Tanpa panggung megah dan sorotan lampu, suasana justru terasa lebih hidup. Kebaya yang dikenakan menjadi simbol bahwa semangat Kartini tetap menyala, tanpa mengenal batas usia.

Tawa dan tepuk tangan pecah mengiringi setiap penampilan. Keseruan semakin memuncak ketika para juri dan tamu undangan melakukan hal tak terduga, yakni patungan untuk menyediakan hadiah bagi peserta.

“Alhamdulillah tadi ada anggota DPRD, saya minta jadi juri, lalu kita patungan untuk hadiah,” kata Arifah.

Tak ada penentuan juara utama dalam ajang spontan ini. Panitia dan juri sepakat bahwa seluruh peserta layak mendapatkan apresiasi atas keberanian dan semangat yang ditampilkan.

“Kita memang sengaja tidak memilih juara satu, dua, atau tiga, karena pesertanya banyak dan semuanya luar biasa. Ini menunjukkan ibu-ibu GWS yang usianya tidak muda lagi tetap bersemangat meneruskan perjuangan Kartini,” tambahnya.

Ketua panitia, Siti Nurhayati, menyebut kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian program pemberdayaan perempuan yang telah dilakukan sebelumnya.

“Sebelumnya kami mengadakan potong rambut gratis di panti asuhan, pembagian sayur untuk masyarakat, serta pelatihan merias diri bersama komunitas perempuan di beberapa tempat,” jelasnya.

Ia menambahkan, mayoritas anggota GWS merupakan perempuan senior yang justru memiliki keunggulan dalam hal kepedulian sosial dan kontribusi bagi masyarakat.

“Karena sudah matang, mereka punya waktu, tenaga, dan pikiran untuk berkontribusi lebih luas. Itu yang menjadi kekuatan GWS,” ujarnya.

Fashion show dadakan ini menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia berubah menjadi ruang ekspresi yang membuktikan bahwa perempuan tetap bisa percaya diri, berkarya, dan menginspirasi di tengah masyarakat.

 

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *