SEMARANG, SemarangSatu.com – Saat ancaman musim kemarau mulai menghantui Jawa Tengah, sebuah inovasi menarik lahir dari kampus di Kota Semarang. Bukan sekadar alat biasa, teknologi ini mampu menghasilkan air minum langsung dari udara.
Namanya ToyaKU.
Alat hasil riset mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang itu resmi dihibhkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Selasa (5/5/2026), sebagai solusi alternatif penyediaan air bersih, terutama saat musim kemarau panjang.
ToyaKU merupakan alat penghasil air siap minum tanpa bergantung pada sumur, sungai, maupun jaringan PDAM.
Alat ini diserahkan langsung oleh Rektor Udinus, Pulung Nurtantio Andono, kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno.
Menariknya, dalam prosesi penyerahan tersebut, Sekda Jateng langsung mencoba air hasil olahan ToyaKU.
Responsnya cukup mengejutkan.
“Ini luar biasa karena menangkap air dari udara. Tadi saya mencoba airnya, segar,” kata Sumarno usai mencicipi air hasil inovasi tersebut.
Menurutnya, rasa air dari ToyaKU tidak berbeda dengan air yang berasal dari sumber mata air alami.
Ia menilai inovasi ini sangat relevan, apalagi BMKG memprediksi Jawa Tengah akan memasuki musim kemarau panjang mulai Juni mendatang.
Kondisi itu berpotensi memicu kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah daerah.
“Mudah-mudahan dengan model alat seperti ini, juga menjadi bagian kita menangani kekurangan kebutuhan air, utamanya air bersih saat musim kemarau nanti,” lanjutnya.
Pemprov Jateng pun berharap teknologi ini bisa terus dikembangkan agar jumlah unitnya semakin banyak dan bisa ditempatkan di wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan air bersih.
Terutama daerah yang tidak memiliki sumber mata air tetap.
Rektor Udinus, Pulung Nurtantio Andono menjelaskan, ToyaKU merupakan singkatan dari Smart Atmosphere Water Federation.
Alat ini bekerja dengan memanen air langsung dari udara melalui teknologi kondensasi yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT).
Dengan kata lain, udara di sekitar diubah menjadi air siap minum.
“Insyaallah kesehatannya terjamin karena sudah diperiksa oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang,” jelas Pulung.
Ia menegaskan, riset kampus tidak boleh hanya berhenti di laboratorium atau ruang kelas.
Harus ada manfaat nyata yang bisa dirasakan masyarakat luas.
Karena itu, pihak kampus memilih menyerahkan hasil inovasi tersebut kepada Pemprov Jateng agar penggunaannya lebih luas.
“Kami percaya pemerintah provinsi Jawa Tengah bisa memanfaatkan hasil riset kami secara maksimal,” ujarnya.
Saat ini, pihak kampus juga sedang mengurus hak paten untuk ToyaKU agar inovasi tersebut memiliki perlindungan hukum sekaligus bisa dikembangkan lebih besar.
Berdasarkan hasil pengujian, ToyaKU mampu memproduksi sekitar 8 liter air dalam waktu 12 jam.
Air yang dihasilkan pun telah memiliki sertifikasi layak minum dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah, Laksono Dewanto, menyebut inovasi ini sebagai terobosan yang sangat menarik.
Menurutnya, konsep ToyaKU mirip seperti dispenser modern yang menyerap udara untuk diolah menjadi air siap konsumsi.
Alat tersebut rencananya akan ditempatkan di ruang publik milik Pemprov Jateng agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas.
“ToyaKU ini akan kami tempatkan di public space, di co-working space kami. Di situ ada Rumah Rakyat,” jelas Laksono.
Ia berharap para tamu yang datang ke Kantor Gubernur Jawa Tengah nantinya bisa langsung menikmati air minum hasil inovasi mahasiswa Udinus tersebut.
Lebih dari sekadar alat teknologi, ToyaKU menjadi simbol bahwa solusi atas persoalan besar bisa lahir dari kreativitas anak muda kampus.
Saat banyak daerah masih bergantung pada sumber air konvensional, mahasiswa Semarang justru berhasil membuktikan bahwa udara pun bisa menjadi sumber kehidupan.




