SEMARANG, SemarangSatu.com – Di balik keuntungan fantastis yang mencapai Rp41,1 miliar, sindikat penipuan online internasional yang dibongkar Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah ternyata menerapkan sistem kerja yang sangat tertutup. Para pelaku bahkan tidak saling mengenal identitas satu sama lain meski bekerja dalam jaringan yang sama.
Penyidik menemukan fakta bahwa setiap anggota hanya mengetahui tugasnya masing-masing dan mengenal rekan kerja sebatas inisial. Sistem itu sengaja dibuat untuk mengurangi risiko kebocoran informasi apabila salah satu anggota tertangkap aparat.
Direktur Reserse Siber Polda Jateng Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih mengatakan jaringan tersebut memang dirancang dengan pola kerja yang sangat disiplin dan berlapis.
“Antara marketing dengan sesama marketing ini tidak saling kenal. Mereka hanya diberikan inisial,” ujar Himawan dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, para pelaku sengaja dibagi ke dalam sejumlah kelompok kecil yang bekerja secara terpisah. Masing-masing kelompok dipimpin seorang leader yang bertanggung jawab mengatur target dan mengawasi kinerja anggota.
Menariknya, antar leader pun tidak saling mengenal meskipun berada dalam satu jaringan dan menggunakan fasilitas operasional yang sama.
“Ada empat leader. Leader satu dengan leader yang lain tidak saling kenal meskipun bekerja dalam satu area,” jelas Himawan.
Sistem tersebut membuat jaringan mampu menjaga kerahasiaan operasi dalam waktu cukup lama. Bahkan ketika satu kelompok mengetahui identitas korbannya, kelompok lain tidak memiliki akses terhadap data tersebut.
Polda Jateng menemukan bahwa setiap anggota hanya memperoleh informasi yang berkaitan langsung dengan pekerjaannya.
Asisten marketing misalnya, hanya bertugas mencari target di aplikasi kencan daring seperti Tinder, Puf dan Boo maupun melalui media sosial Facebook.
Ketika mendapatkan calon korban yang merespons, data tersebut langsung diteruskan kepada marketing.
Selanjutnya marketing mengambil alih komunikasi dan mulai membangun hubungan emosional dengan korban.
Dalam tahap ini para pelaku menggunakan identitas palsu dan berpura-pura menjadi perempuan muda yang menarik.
Komunikasi dilakukan secara intensif setiap hari agar korban merasa memiliki hubungan khusus dengan pelaku.
“Marketing menggunakan identitas palsu ketika membuat akun media sosial untuk merayu korban,” kata Himawan.
Penyidik mengungkapkan bahwa sebagian besar marketing sebenarnya adalah laki-laki. Namun mereka memperkenalkan diri sebagai perempuan dengan menggunakan foto-foto model yang telah disiapkan jaringan.
Jika korban mulai curiga dan meminta melakukan panggilan video, sindikat sudah menyiapkan langkah berikutnya.
Mereka mempekerjakan seorang perempuan yang berperan sebagai model untuk tampil dalam video call.
Perempuan tersebut bertugas memperkuat kepercayaan korban agar yakin bahwa orang yang selama ini berkomunikasi dengannya benar-benar nyata.
“Pada saat korban meminta video call, yang tampil bukan marketing tetapi model yang sudah disiapkan,” ungkap Himawan.
Model itu juga tidak mengetahui keseluruhan operasi yang dijalankan kelompok lain. Ia hanya menjalankan tugas sesuai arahan yang diberikan.
Begitu pula dengan para leader yang hanya mengendalikan anggota di bawah koordinasinya masing-masing.
Polisi menduga pola kerja seperti ini sengaja diterapkan agar organisasi tetap berjalan meski salah satu bagian mengalami gangguan.
Selain membatasi hubungan antaranggota, sindikat juga menerapkan aturan ketat terkait penggunaan perangkat komunikasi.
Setiap korban diberikan satu nomor telepon dan satu perangkat khusus.
Perangkat tersebut tidak digunakan untuk korban lain sehingga jejak komunikasi lebih sulit ditelusuri.
“Jadi satu korban itu satu handphone. Setelah selesai digunakan, mereka menggunakan perangkat lain untuk target berikutnya,” terang Himawan.
Dalam penggerebekan yang dilakukan di tujuh lokasi berbeda, penyidik menemukan 140 telepon seluler dan 123 unit komputer yang digunakan untuk menjalankan operasi tersebut.
Jumlah perangkat yang besar menunjukkan bahwa jaringan tersebut memang dirancang untuk menangani banyak korban secara bersamaan.
Selain perangkat elektronik, polisi juga menemukan buku panduan kerja yang berisi skrip percakapan dan strategi membangun hubungan emosional dengan calon korban.
Buku itu menjadi pedoman utama bagi anggota baru yang direkrut jaringan.
Menurut Himawan, sebagian besar pelaku direkrut melalui media sosial dan dijanjikan pekerjaan dengan gaji yang cukup tinggi.
Marketing, model maupun leader diketahui memperoleh penghasilan antara Rp10 juta hingga Rp20 juta per bulan.
Apabila berhasil mencapai target tertentu, mereka juga mendapatkan bonus tambahan yang nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah.
“Dengan sistem yang tertutup seperti itu, mereka berharap aktivitasnya tidak mudah diketahui orang lain,” ujarnya.
Dari hasil penyelidikan diketahui jaringan tersebut telah beroperasi sejak Juli 2025 dan berpindah-pindah lokasi untuk menghindari pemantauan aparat.
Sebelum digerebek di Solo Raya, kelompok tersebut tercatat sudah menggunakan sedikitnya empat kantor berbeda sebagai pusat operasional.
Kini seluruh aktivitas mereka berhasil dihentikan setelah Ditressiber Polda Jateng mengamankan 39 tersangka yang terdiri dari 28 WNI, tujuh warga Nepal dan empat warga Myanmar.
Meski demikian, penyidik masih terus mengembangkan kasus untuk mengungkap pihak yang diduga menjadi pengendali utama jaringan internasional tersebut.
Polisi juga mendalami kemungkinan adanya kelompok lain dengan pola kerja serupa yang masih beroperasi di wilayah Indonesia.




