Lulusan Kuliah Ini Pilih Bertani, Jadi Bukti Sekolah Tani Milenial Kabupaten Semarang Mulai Diminati

Lulusan Kuliah Ini Pilih Bertani, Jadi Bukti Sekolah Tani Milenial Kabupaten Semarang Mulai Diminati (Foto: Taufik)

 

Sekolah Tani Milenial Kabupaten Semarang Cetak Petani Muda, Lulusan Kuliah Ini Pilih Garap Lahan Keluarga

SEMARANG, SemarangSatu.com – Sekolah Tani Milenial Kabupaten Semarang terus digencarkan untuk mengatasi krisis regenerasi petani. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial di Kabupaten Semarang kini hanya 11,8 persen, sedangkan petani berusia tua mencapai 77,8 persen. Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten Semarang menyiapkan generasi muda agar kembali tertarik menggeluti sektor pertanian.

Salah satu peserta yang memilih terjun ke dunia pertanian adalah Muhammad Khairul Anam (25), warga Kecamatan Ungaran Barat. Setelah lulus kuliah, ia belum mendapatkan pekerjaan. Tawaran sang ibu untuk mengelola lahan keluarga di kawasan Genuk justru menjadi titik awal dirinya menekuni profesi sebagai petani.

“Setelah lulus kuliah saya belum punya pekerjaan. Lalu ibu menawarkan untuk mengelola lahan sendiri,” ujar Khairul.

Berbeda dengan kebanyakan petani di daerahnya yang menanam padi, Khairul memilih mencoba komoditas lain. Menurutnya, bertani memberi kesempatan untuk mengembangkan usaha sendiri dengan waktu kerja yang lebih fleksibel, meski tetap membutuhkan ketelatenan dalam merawat tanaman.

Ia mengakui semakin sedikit anak muda yang tertarik menjadi petani. Di lingkungan tempat tinggalnya, sebagian besar pemuda memilih bekerja di sektor industri karena dianggap lebih praktis.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertankap) Kabupaten Semarang, Edy Sukarno, mengatakan persoalan regenerasi petani menjadi tantangan paling serius yang dihadapi sektor pertanian saat ini.

“Statistik kita menunjukkan petani milenial tinggal 11,8 persen, sedangkan petani tua sudah 77,8 persen. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, selama 10 tahun rumah tangga usaha pertanian juga berkurang 10,27 persen, padahal jumlah penduduk terus bertambah,” kata Edy Sukarno.

Menurutnya, Sekolah Tani Milenial Kabupaten Semarang digagas sebagai upaya menarik kembali minat generasi muda agar mau menjadi petani maupun wirausahawan di bidang pertanian.

Program tersebut telah berjalan sejak 2024 dan kini memasuki angkatan keenam. Total sebanyak 240 peserta telah mengikuti pelatihan yang digelar di enam kecamatan sentra tembakau, di antaranya Sumowono, Bringin, Bancak, Kaliwungu, Bandungan, dan wilayah lainnya.

Selama dua hari pelatihan, peserta tidak hanya belajar teknik budidaya tanaman, tetapi juga memperoleh materi kewirausahaan, pemasaran digital, hingga pengembangan bisnis pertanian.

“Pertanian itu sektor yang tidak pernah kehilangan pasar karena semua orang membutuhkan pangan. Kalau anak muda mampu beradaptasi dengan teknologi, ini menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan,” jelas Edy.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan pemerintah daerah berkomitmen mempercepat lahirnya petani-petani muda yang mampu mengelola pertanian secara modern.

Menurutnya, selain pelatihan, Pemkab Semarang juga memberikan dukungan berupa alat dan mesin pertanian seperti transplanter, hand traktor, hingga rice milling unit yang telah disalurkan ke berbagai kecamatan. Pemerintah juga mulai mendorong sistem budidaya semi organik menuju pertanian organik untuk menjaga kesuburan lahan.

“Harapan kami anak-anak muda menjadi petani yang modern. Ada edukasi, ada inovasi, sehingga pertanian menjadi sektor yang semakin maju dan diminati,” kata Ngesti Nugraha.

Melalui Sekolah Tani Milenial Kabupaten Semarang, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda mengikuti jejak Muhammad Khairul Anam. Regenerasi petani dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan pangan di tengah terus berkurangnya jumlah petani produktif.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *