SEMARANG, SemarangSatu.com — Pacuan kuda Indonesia mencoba naik kelas. Tidak lagi hanya menjadi tontonan olahraga, tetapi juga menjelma sebagai perpaduan budaya, hiburan modern, dan ruang berkumpul masyarakat lintas generasi.
Gambaran itu terlihat dalam gelaran Indonesia’s Horse Racing (IHR) Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Minggu, 10 Mei 2026.
Sekitar 30 ribu pengunjung memadati arena pacuan sejak pagi. Ribuan orang datang mengenakan kain tradisional Jawa, menikmati hiburan keluarga, pertunjukan budaya, hingga menyaksikan duel sengit 147 kuda terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah arena, sorak penonton pecah saat kuda-kuda berpacu menuju garis akhir. Namun di luar lintasan, suasana lebih menyerupai festival budaya modern ketimbang sekadar perlombaan olahraga.
Managing Director SARGA Group Nugdha Achadie mengatakan konsep tersebut memang sengaja dihadirkan untuk mengubah wajah pacuan kuda di Indonesia.
“Melalui IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026 ini, kami ingin menghadirkan pacuan kuda sebagai sebuah sportainment experience yang memadukan kompetisi olahraga, nilai budaya, dan hiburan modern,” katanya.
Menurut Nugdha, olahraga berkuda memiliki potensi besar untuk berkembang lebih luas apabila dikemas dengan pendekatan yang relevan bagi generasi muda.
“Kami berharap event hari ini dapat menambah daya tarik olahraga dan budaya berkuda kepada generasi dan audiens yang lebih luas,” ujarnya.
Konsep sportainment itu terlihat jelas sepanjang acara. Selain perlombaan utama, pengunjung juga menikmati hiburan musik, pembagian es krim gratis, hingga atmosfer budaya Jawa yang terasa kuat.
Tema berkain menjadi salah satu daya tarik utama event tersebut. Ribuan pengunjung tampak mengenakan lurik, jarik, hingga busana tradisional khas Jawa.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara X mengatakan tema tersebut dipilih karena kain tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya Indonesia.
“Karena kain itu merupakan suatu bagian dari identitas kita,” katanya.
Menurutnya, budaya harus diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan agar lebih mudah diterima generasi muda.
“Piala Mangkunegaran ini menjadi medium untuk memperkenalkan budaya kita menjadi suatu gaya hidup di era hari ini,” ujarnya.
Ia mengaku senang melihat banyak pengunjung yang awalnya belum pernah berkain justru menikmati pengalaman tersebut.
“Ternyata kita kembali ke identitas itu sangat-sangat menyenangkan,” katanya.
Mangkunagara X menilai event seperti ini penting untuk membangun ruang pertemuan antara budaya, olahraga, dan masyarakat.
“Kita melihat masyarakat hari ini senang berkumpul dengan keluarganya, dengan anak-anaknya, dengan teman-temannya,” ujarnya.
Baginya, kebersamaan dan interaksi sosial menjadi nilai penting dalam penyelenggaraan Piala Raja Mangkunegaran.
“Merayakan sesama manusia satu sama lain itu menurut kita adalah yang paling penting dan paling berharga,” katanya.
Di balik kemeriahan itu, Piala Raja Mangkunegaran juga menyimpan nilai sejarah panjang.
Mangkunagara X menjelaskan hubungan Mangkunegaran dengan tradisi berkuda telah berlangsung sejak masa legiun dan kavaleri Mangkunegaran pada abad ke-19.
“Karena kuda dan Mangkunegaran untuk kami sejarahnya sudah sangat panjang,” katanya.
Ia menyebut kawasan Solobalapan dahulu bahkan pernah menjadi arena pacuan kuda sebelum dibangun stasiun kereta api.
“Dulu sendiri Mangkunegaran di dalam istananya juga menjadi arena berkuda untuk keprajuritan,” ujarnya.
Menurutnya, penyelenggaraan Piala Raja Mangkunegaran menjadi langkah untuk menghidupkan kembali sejarah tersebut dalam format baru yang lebih modern.
“Ini sejarah yang panjang yang hari ini kita hidupkan kembali bersama dengan rekan-rekan dari Pordasi dan Sarga,” katanya.
Dalam perlombaan utama, Princess Gavi dari Jawa Barat keluar sebagai juara Piala Raja Mangkunegaran setelah memenangkan Kelas Terbuka Handicap 2.000 meter.
Sementara Saga Serumpun dari Sumatera Barat menjadi juara Kelas 3 Tahun Derby 1.600 meter sekaligus menggagalkan harapan terciptanya back to back Triple Crown Indonesia oleh Maxi of Khalim.
Sebanyak 54 kuda berhasil naik podium dan memperebutkan total hadiah Rp600 juta.
BHM Stable dari Kalimantan Selatan menjadi stable dengan podium terbanyak, yakni tujuh podium. Disusul King Halim Stable dari Jawa Barat dengan enam podium serta Eclipse Stable dengan lima podium.
Sedangkan Jemmy Runtu, Meikel Soleran, dan Trully Pantouw menjadi joki dengan podium terbanyak, masing-masing empat podium.
Ketua Umum PP PORDASI Aryo Djojohadikusumo menyebut keberhasilan event ini menjadi momentum penting bagi perkembangan pacuan kuda nasional.
Menurut Aryo, Indonesia kini mulai memiliki lebih banyak ajang Piala Raja yang menggabungkan olahraga dan budaya.
“Setelah Piala Raja Hamengku Buwono yang digelar setiap tahun, hari ini secara perdana kita bisa menyelenggarakan Piala Raja Mangkunegaran,” katanya.
Ia mengatakan PP PORDASI memang memiliki program memperbanyak Piala Raja di berbagai wilayah Indonesia.
“Ini merupakan bagian dari program pengurus pusat Pordasi untuk memperbanyak Piala Raja,” ujarnya.
Aryo menilai konsep budaya lokal menjadi kekuatan utama pacuan kuda Indonesia.
Menurut dia, setiap daerah nantinya dapat menghadirkan nuansa budaya masing-masing dalam event pacuan kuda nasional.
“Kalau di Sumatera mungkin coraknya ulos, kalau di Kalimantan mungkin berbeda lagi,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pacuan kuda modern harus bisa menjadi hiburan yang terbuka bagi semua kalangan.
“Pacuan kuda itu harus fun, seru, bisa merangkul semua orang,” ujarnya.
Ketua Komisi Pacu PP PORDASI Munawir mengatakan konsep Piala Raja terinspirasi dari tradisi pacuan dunia seperti Royal Ascot di Inggris.
“Jadi kita jangan kalah sama luar negeri,” katanya.
Sementara itu, Mangkunagara X mengaku semakin tertarik mengembangkan ekosistem berkuda di lingkungan Mangkunegaran.
Ia menyebut saat ini pihaknya tengah menyiapkan revitalisasi gedung Kavaleri Artileri di kawasan Pura Mangkunegaran.
Gedung tersebut dahulu menjadi stable kuda dan fasilitas keprajuritan Mangkunegaran.
“Tentunya salah satu hal yang sedang kita rencanakan adalah merevitalisasi gedung Kavaleri Artileri,” ujarnya.
Ia berharap revitalisasi tersebut dapat memperkuat perkembangan budaya dan olahraga berkuda di Indonesia.
Piala Raja Mangkunegaran sendiri menjadi seri pertama King’s Cup Series dalam kalender IHR 2026.
Event tersebut diikuti 147 kuda dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2 2026 didukung Arsari Tambang, Bank Mandiri, Japfa, Fortis, Pertamina, Aquviva, Top Coffee, Daum Crystal from Elite Grahacipta, dan Blue Blood Stable.




