17 Bante Thudong Tempuh Jalan Kaki ke Candi Sewu, Jalur Gombel Semarang Paling Menguras Tenaga

17 Bante Thudong Tempuh Jalan Kaki ke Candi Sewu, Jalur Gombel Semarang Diakui Paling Menguras Tenaga (Foot: Taufik)

SEMARANG, SemarangSatu.com – Sebanyak 17 Bante Thudong menjalani perjalanan spiritual bertajuk Thudong Walk For Peace dari Jepara menuju Candi Sewu dengan berjalan kaki selama belasan hari menjelang perayaan Waisak 2026. Dalam perjalanan tersebut, para bante harus menghadapi berbagai medan berat, termasuk tanjakan Gombel di Kota Semarang yang disebut paling menguras tenaga.

Bhikkhu Accacitto Thera selaku penanggung jawab peserta Thudong Walk For Peace mengatakan perjalanan yang ditempuh para bante tidak mudah karena kondisi jalan yang menanjak dipadukan cuaca panas membuat stamina cepat terkuras.

“Bante juga lama menunggu jalannya. Bante nya berusaha untuk cepat tapi ternyata jalannya tidak rata,” ujar Bhikkhu Accacitto Thera saat ditemui di Kabupaten Semarang, Senin (25/5/2026) malam.

Ia mengungkapkan jalur Gombel menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan karena kondisi tanjakan yang panjang dan suhu udara yang cukup panas saat perjalanan berlangsung.

“Yang menurut saya yang paling berat ya di sana karena panas lagi. Naiknya kayak gitu. Kakinya ini sudah agak-agak lelah karena sudah dipakai selama 4 hari,” katanya.

Bhikkhu Accacitto juga mengaku baru pertama kali berjalan kaki melewati kawasan Gombel sepanjang hidupnya. Biasanya, kawasan tersebut dilalui menggunakan kendaraan bermotor.

“Seumur hidup saya baru sekali ini. Biasane ya naik mobil. Kalau dulu naik motor. Nah, ini malah suruh jalan kaki,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Meski perjalanan terasa berat, ia menilai perjalanan spiritual tersebut mengajarkan pentingnya menjalani proses dengan tenang tanpa memaksakan diri.

“Tapi semua walaupun jauh walaupun berat tapi kalau dijalani ya selangkah selangkah nyatanya juga bisa selesai. Jadi yang penting enggak ngoyo,” ungkapnya.

Perjalanan Thudong Walk For Peace dimulai sejak 20 Mei 2026 usai seremoni pelepasan yang dihadiri sejumlah kepala daerah. Rombongan dijadwalkan tiba di Candi Sewu pada 31 Mei 2026 untuk mengikuti rangkaian perayaan Waisak.

“Jadi kita mulai start perjalanan itu pada tanggal 20 Mei pagi. Nanti kita akan sampai di Klaten itu tanggal 30 untuk melanjutkan kirab Waisak tanggal 31 menuju Candi Sewu,” jelasnya.

Menurut Bhikkhu Accacitto, perjalanan tahun ini menjadi momen spesial karena seluruh peserta Thudong berasal dari Indonesia tanpa keterlibatan bante luar negeri seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Ini bukan ke Borobudur ya. Karena ini bante-bantenya semua dalam negeri, enggak ada luar negeri. Jadi kita mengangkat kearifan lokal,” paparnya.

Ia menjelaskan pemilihan Candi Sewu bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai sejarah tinggi, kompleks candi tersebut disebut lebih tua dibandingkan Candi Borobudur.

“Candi Sewu kan merupakan salah satu candi yang lebih tua dari Borobudur. Jadi kami memilih di sana untuk melakukan upacara Waisak,” lanjutnya.

Selain menjadi perjalanan spiritual, kegiatan tersebut juga membawa pesan perdamaian melalui tema Walk For Peace. Bhikkhu Accacitto menilai kondisi global yang penuh konflik membuat pesan hidup damai semakin penting disuarakan.

“Kita tahu semua kondisi dunia global sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Maka di sini kita ingin menyerukan khususnya di dalam NKRI ini untuk sama-sama hidup dalam satu kebersamaan,” katanya.

Ia berharap masyarakat Indonesia tetap menjaga persatuan meski memiliki latar belakang berbeda.

“Kita beda suku, beda ras, agama juga tidak sama. Jadi kita berharap dengan adanya gaungan Walk For Peace ini kita semua pengin damai, pengin bahagia,” tandasnya.

Kedatangan rombongan Thudong di kawasan Gunung Kalong, Kabupaten Semarang mendapat sambutan hangat dari ratusan umat Buddha. Penyambutan dilakukan dengan tradisi membasuh kaki para bante menggunakan air bunga sebagai simbol penghormatan.

Pengurus TITD Gunung Kalong, Karbono, mengatakan ritual tersebut merupakan bentuk bakti umat kepada para bhikkhu yang sedang menjalani perjalanan spiritual.

“Sebagai wujud penghormatan kami umat Buddha membasuh kaki bante yang melakukan perjalanan spiritual,” ujarnya.

Karbono menyebut lebih dari 300 umat hadir menyambut rombongan bante di kawasan Gunung Kalong.

“Persiapan kami umat sini tadi ada mungkin 300 lebih yang hadir untuk menyambut Bhikkhu Thudong,” katanya.

Menurutnya, perjalanan Thudong juga menjadi simbol moderasi dan toleransi antarumat beragama karena selama perjalanan para bante mendapat dukungan dari berbagai kalangan.

“Di Thudong ini banyak dibantu oleh sahabat-sahabat keluarga kami umat muslim, umat Katolik, umat Kristen dan lainnya. Jadi ini adalah sebuah wujud toleransi,” ucapnya.

Salah satu warga bernama Dahmi mengaku datang bersama rombongan dari Wihara Darmapala Depongan untuk menyambut para bante di Gunung Kalong. Perempuan berusia 60 tahun itu mengatakan air bekas membasuh kaki bante dipercaya membawa keberkahan bagi umat.

“Biar diberi kesehatan, diberi berkah, biar sehat, biar waras,” kata Dahmi.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *