Jangan Tunggu Motor Gredek, Astra Motor Jateng Ingatkan Pentingnya Servis CVT Motor Matik
SEMARANG, SemarangSatu.com – Motor matik menjadi pilihan utama masyarakat karena menawarkan kemudahan dan kenyamanan saat berkendara. Namun, di balik sistem pengoperasiannya yang praktis, terdapat komponen penting yang kerap luput dari perhatian, yakni Continuously Variable Transmission (CVT).
Padahal, komponen tersebut memiliki peran vital dalam menyalurkan tenaga mesin ke roda belakang. Jika tidak dirawat secara berkala, performa motor dapat menurun hingga berisiko mengalami kerusakan saat digunakan.
Instruktur Training Astra Motor Jawa Tengah, Fachrul Reza, mengatakan banyak pemilik motor matik baru menyadari pentingnya perawatan CVT setelah muncul keluhan seperti getaran saat berakselerasi, suara kasar, atau tarikan motor yang terasa berat.
Menurutnya, gejala tersebut umumnya dipicu oleh debu kampas, kotoran, serta panas yang menumpuk di dalam rumah CVT.
“CVT itu bekerja terus menerus setiap motor digunakan. Kalau jarang dibersihkan, debu kampas dan panas berlebih bisa memengaruhi performa motor secara keseluruhan,” ujar Fachrul Reza, Selasa (9/6/2026).
Ia menjelaskan, di dalam ruang CVT terdapat sejumlah komponen yang saling bekerja, mulai dari V-belt, roller, pulley, hingga kampas ganda. Seluruh komponen tersebut akan terus bergesekan selama motor digunakan.
Seiring bertambahnya jarak tempuh, debu jalanan dan sisa gesekan kampas akan mengendap di dalam rumah CVT. Apabila tidak dibersihkan secara berkala, kotoran tersebut dapat menghambat pergerakan roller sehingga memunculkan gejala yang dikenal pengendara sebagai gredek.
Kondisi tersebut biasanya ditandai dengan munculnya getaran saat motor mulai berjalan dari posisi berhenti. Selain mengurangi kenyamanan, tarikan motor juga menjadi lebih berat dan respons akselerasi menurun.
Fachrul menambahkan, banyak pengendara menunda servis CVT karena merasa motor masih bisa digunakan seperti biasa. Padahal, kerusakan pada sistem transmisi otomatis tersebut umumnya berlangsung secara perlahan sehingga sering tidak disadari.
“Kalau dibiarkan terlalu lama, risiko paling fatal adalah V-belt putus di jalan. Itu bukan cuma bikin motor mogok, tapi juga bisa membahayakan pengendara,” katanya.
Menurutnya, V-belt yang terus bekerja dalam suhu tinggi akan mengalami pengerasan dan retak apabila tidak mendapatkan pemeriksaan rutin. Jika komponen tersebut putus saat motor melaju, tenaga mesin tidak lagi tersalurkan ke roda belakang sehingga kendaraan langsung kehilangan penggerak.
Tidak hanya itu, serpihan V-belt yang hancur juga berpotensi merusak komponen lain seperti pulley dan rumah CVT. Akibatnya, biaya perbaikan menjadi jauh lebih besar dibandingkan melakukan perawatan secara berkala.
Karena itu, Astra Motor Jawa Tengah mengimbau pemilik motor matik untuk melakukan servis CVT di bengkel resmi AHASS setiap 6.000 hingga 8.000 kilometer, atau mengikuti jadwal perawatan yang direkomendasikan pada buku servis kendaraan.
Dalam proses perawatan tersebut, mekanik akan membuka rumah CVT untuk membersihkan debu dan kotoran yang menumpuk. Selain itu, kondisi V-belt, roller, kampas ganda, serta pulley juga diperiksa guna memastikan seluruh komponen masih bekerja dengan baik.
Mekanik juga akan memberikan grease khusus pada komponen pulley agar tetap bergerak optimal sehingga perpindahan rasio pada sistem CVT berlangsung lebih halus.
Dengan melakukan pemeriksaan secara rutin, pemilik motor dapat menghindari berbagai gangguan seperti getaran, tarikan berat, konsumsi bahan bakar yang meningkat, hingga risiko kerusakan komponen yang lebih serius.
Astra Motor Jawa Tengah menilai perawatan CVT merupakan investasi kecil yang mampu menjaga performa motor tetap optimal sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan selama berkendara.




