Canggih! Robot Kecoa UNDIP Siap Bantu Evakuasi Korban Bencana

SEMARANG, SemarangSatu.com – Inovasi unik berupa robot kecoa milik Universitas Diponegoro menarik perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Bahkan, Rektor Undip langsung bertolak ke Jakarta untuk mendampingi tim peneliti dalam mendemonstrasikan teknologi tersebut di hadapan BNPB.

Undangan ini menjadi momentum penting setelah inovasi bernama Roach-Detect tersebut meraih penghargaan internasional, termasuk Gold Award dan Special Award di ajang Malaysia Technology Expo (MTE).

Tim Cyborg Insect Fakultas Teknik Undip menghadirkan robot berbentuk kecoa yang dirancang khusus untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan korban bencana, terutama di area yang sulit dijangkau manusia.

Inovasi ini dikembangkan melalui riset multidisiplin yang menggabungkan teknik mesin, teknik elektro, robotika, hingga kecerdasan buatan.

Inovator utama, Mochammad Ariyanto, mendemonstrasikan langsung kemampuan robot kecoa dalam simulasi kondisi bencana.

Robot tersebut mampu bergerak lincah menembus celah sempit, melewati medan tidak rata, hingga beroperasi dalam kondisi minim cahaya.

Tak hanya itu, perangkat ini juga dilengkapi sensor dan kamera mikro yang dapat mengirimkan data secara real-time kepada tim penyelamat di lapangan.

Rektor Undip, Suharnomo, menegaskan bahwa pengembangan teknologi ini diarahkan untuk meningkatkan efektivitas operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).

Menurutnya, Indonesia sebagai negara rawan bencana membutuhkan inovasi yang mampu mempercepat proses evakuasi korban.

“Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif dalam penanganan bencana di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BNPB, Suharyanto, memberikan apresiasi atas inovasi tersebut.

Ia menyatakan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi kunci dalam memperkuat sistem mitigasi dan penanggulangan bencana nasional.

BNPB pun membuka peluang kerja sama lanjutan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi robot kecoa ini dalam operasi nyata.

Solusi di Tengah Keterbatasan Evakuasi

Teknologi Roach-Detect lahir dari kebutuhan nyata di lapangan saat bencana terjadi, di mana banyak korban terjebak di reruntuhan sempit yang sulit dijangkau.

Dalam kondisi tersebut, waktu menjadi faktor krusial. Standar internasional menetapkan masa emas atau golden time selama 72 jam untuk menemukan korban dalam kondisi hidup.

Menjawab tantangan itu, tim Undip mengembangkan pendekatan biohybrid dengan memanfaatkan kecoa jenis Madagascar Hissing Cockroach.

Serangga ini dipilih karena memiliki kemampuan alami menjelajah ruang sempit dan bertahan dalam kondisi ekstrem.

Kecoa tersebut kemudian dipasangi perangkat elektronik ringan untuk mengendalikan pergerakan sekaligus mengumpulkan data lapangan.

Sistem ini mampu mendeteksi keberadaan manusia melalui pola suhu tubuh, bahkan dalam kondisi gelap, berdebu, atau mengandung gas berbahaya.

Data yang diperoleh akan dikirimkan ke platform monitoring berbasis web yang dapat diakses secara langsung oleh tim SAR.

Dengan konsep ini, Roach-Detect menawarkan pendekatan baru yang menggabungkan keunggulan makhluk hidup dengan teknologi modern.

Sistem dirancang ringan, adaptif, dan mampu menjangkau area yang sebelumnya tidak dapat diakses oleh robot konvensional maupun anjing pelacak.

 

 

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *