Seribu Ingkung dan Gunungan Hasil Bumi Semarakkan Haul Ki Ageng Wonokusumo di Cukilan
SEMARANG, SemarangSatu.com – Ribuan warga memadati kompleks Makam Ki Ageng Wonokusumo di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, dalam peringatan Haul Ki Ageng Wonokusumo. Tradisi tahunan ini kembali berlangsung meriah dengan berbagai prosesi khas, mulai dari kenduri seribu ingkung ayam, arak-arakan gunungan hasil bumi, ritual pergantian lawon makam, hingga ziarah yang diikuti masyarakat dari berbagai daerah.
Haul Ki Ageng Wonokusumo merupakan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang diyakini sebagai pendiri Desa Cukilan. Selain menjadi agenda religius, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan dan gotong royong masyarakat.
Salah satu daya tarik utama haul adalah tradisi setiap kepala keluarga membawa satu ingkung ayam. Jumlahnya mencapai sekitar seribu ingkung yang kemudian didoakan bersama sebelum dibagikan kepada masyarakat dan tamu yang hadir.
Tak hanya itu, panitia juga menghadirkan tiga gunungan hasil bumi yang berisi aneka sayuran, buah-buahan, cabai, umbi-umbian, hingga berbagai bahan pangan hasil panen warga. Ribuan masyarakat yang telah memenuhi lokasi langsung berebut isi gunungan tersebut. Bahkan, saking tingginya antusiasme pengunjung, tiga gunungan itu sudah habis diperebutkan sebelum doa bersama selesai dibacakan.
Rangkaian haul juga diisi prosesi pergantian lawon atau kain penutup makam Ki Ageng Wonokusumo. Ritual tersebut menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus bagian dari tradisi yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Cukilan.
Camat Suruh, Vega Lazuardi, mengatakan Haul Ki Ageng Wonokusumo merupakan agenda rutin tahunan yang memiliki makna penting dalam menjaga warisan budaya dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat.
“Ini merupakan tradisi rutin masyarakat untuk menghargai dan mengenang jasa-jasa para pendahulu, khususnya Ki Ageng Wonokusumo yang juga merupakan pendiri Desa Cukilan. Beliau meletakkan pondasi bagaimana masyarakat hidup rukun dan guyub sampai sekarang,” ujarnya.
Menurut Vega, semangat kebersamaan yang diwariskan Ki Ageng Wonokusumo masih terus dijaga masyarakat hingga kini. Nilai gotong royong itulah yang menjadi kekuatan dalam membangun desa.
Keunikan tradisi seribu ingkung juga menjadi daya tarik tersendiri.
“Setiap rumah membawa ingkung dan nanti dibagi-bagikan. Hari ini bisa dibilang hari pembantaian ayam nasional tingkat Cukilan. Jadi kambing dan sapi berbahagia karena tidak dipotong,” katanya sambil berseloroh yang disambut tawa warga.
Vega menambahkan, Pemerintah Kabupaten Semarang memberikan apresiasi terhadap masyarakat yang masih konsisten melestarikan budaya lokal di tengah mulai memudarnya nilai kebersamaan di sejumlah daerah.
Bahkan, melalui persetujuan Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha bersama DPRD Kabupaten Semarang, pemerintah telah mengalokasikan dana hibah untuk pemugaran Makam Ki Ageng Wonokusumo.
Selain itu, Pemerintah Kecamatan Suruh juga telah mengusulkan Haul Ki Ageng Wonokusumo masuk dalam Kalender Event Pariwisata Kabupaten Semarang.
“Kami sudah menyampaikan kepada Dinas Pariwisata dan beberapa event rutin di desa-desa Kecamatan Suruh telah kami daftarkan agar menjadi alternatif wisata budaya di Kabupaten Semarang,” katanya.
Tradisi ini tidak hanya menarik masyarakat Desa Cukilan. Pengunjung juga datang dari berbagai daerah untuk mengikuti ziarah dan berharap memperoleh keberkahan.
Salah satunya Cici Anggoro yang datang bersama dua rekannya dari Kecamatan Pabelan. Mereka mengaku hampir setiap tahun mengikuti haul karena memiliki keunikan yang tidak ditemui di tempat lain.
“Alhamdulillah saya dapat sawi putih sama cabai. Sebenarnya ingin dapat belimbing, tapi tidak kebagian karena tinggi. Yang paling unik itu ada sekitar seribu ingkung. Satu kaki ayam dari setiap ingkung disajikan untuk tamu dan selalu cukup. Selain itu, sumber air di sini juga tidak pernah habis meski diambil banyak orang,” katanya.
Pengunjung lainnya, Biyati, mengaku sengaja datang untuk berziarah dan mengikuti seluruh rangkaian acara.
“Saya senang sekali setiap tahun ikut ke sini. Terima kasih kepada Desa Cukilan yang sudah memberikan fasilitas untuk berziarah ke makam Ki Ageng Wonokusumo. Alhamdulillah saya mendapatkan nasi kuning paling atas, semoga membawa rezeki,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Dwi Aena. Ia mengaku selalu menyempatkan hadir karena suasana haul yang meriah dan penuh kebersamaan.
“Setiap tahun acaranya selalu meriah. Alhamdulillah saya dapat nanas, nanti dibuat rujak,” ucapnya.
Dengan tradisi seribu ingkung, gunungan hasil bumi, ritual ganti lawon makam, hingga antusiasme ribuan peziarah dari berbagai daerah, Haul Ki Ageng Wonokusumo kini tidak hanya menjadi agenda spiritual masyarakat Desa Cukilan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Semarang.




