Kekeringan dan Krisis Air Mengintai, Begini Strategi Ngesti Jaga Ketahanan Pangan

Kekeringan dan Krisis Air Mengintai, Begini Strategi Ngesti Jaga Ketahanan Pangan (Foto: Ist)

Kekeringan Mengancam, Bupati Ngesti Perkuat Ketahanan Pangan Kabupaten Semarang

SEMARANG, SemarangSatu.com – Ancaman kekeringan dan krisis air di tengah musim kemarau menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Semarang. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mendorong penguatan ketahanan pangan dengan menggabungkan modernisasi pertanian, regenerasi petani, pemulihan tanah, hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Langkah tersebut dinilai penting karena persoalan pertanian saat ini tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan. Perubahan cuaca, keterbatasan air, kondisi tanah, serta semakin sedikitnya anak muda yang tertarik menjadi petani menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Ngesti mengatakan, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci agar pertanian Kabupaten Semarang tetap bertahan. Anak-anak muda, khususnya generasi milenial, perlu didorong untuk masuk ke sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern.

“Tentunya pertanian yang modern,” kata Ngesti, Selasa (28/7/2026).

Pertanian Semarang Didorong Masuk Era Teknologi

Menurut Ngesti, modernisasi pertanian juga harus dibarengi dengan penataan lahan. Terasering di sejumlah kawasan perlu ditata agar hamparan lahan dapat lebih mudah dimanfaatkan untuk penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Pemerintah Kabupaten Semarang telah memberikan dukungan berupa berbagai peralatan pertanian modern. Di antaranya drone, transplanter, dan mini combine untuk membantu proses panen padi.

Penggunaan teknologi tersebut diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi kerja petani.

Ngesti mencontohkan penggunaan transplanter untuk penanaman padi. Jika penanaman satu hektare secara konvensional membutuhkan biaya sekitar Rp3,2 juta, penggunaan mesin tersebut dapat memangkas biaya menjadi sekitar Rp2,1 juta.

“Ini sudah efisiensinya 30 persen,” ujarnya.

Menurutnya, efisiensi tersebut akan semakin terasa apabila teknologi pertanian digunakan dalam lahan dengan hamparan yang lebih luas.

Kemarau, Kekeringan dan Kebakaran Jadi Ancaman

Selain mengejar peningkatan produksi, Pemkab Semarang juga menyiapkan langkah menghadapi dampak musim kemarau.

Ngesti mengatakan kekeringan yang berdampak terhadap ketersediaan air bersih harus diantisipasi. Pemerintah daerah telah menyiapkan bantuan distribusi air bagi masyarakat yang mengalami kekurangan air.

“Kalau kekeringan khususnya untuk air minum, air bersih masyarakat kami ada persediaan. Seandainya ada masyarakat yang kekurangan air bersih bisa nanti komunikasi langsung dengan BPBD, akan nanti kita bantu dropping air bersihnya,” jelasnya.

Musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran. Karena itu, Ngesti meminta pencegahan dan sosialisasi dilakukan secara bersama-sama agar potensi bencana tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Bukan hanya kekeringan dan kebakaran, sejumlah wilayah Kabupaten Semarang juga memiliki potensi bencana lain seperti tanah bergerak dan longsor.

199 Bencana Terjadi hingga Juli 2026

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan Tribiantoro mengatakan ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Saat ini Kabupaten Semarang itu rentan dengan potensi ancaman bencana. Sampai dengan bulan Juli ini sudah terjadi 199 kejadian bencana,” kata Alexander.

Menurut dia, masyarakat menjadi garda terdepan dalam menghadapi bencana. Karena itu, BPBD fokus memperkuat desa tangguh bencana di Kabupaten Semarang.

Alexander menyebut pada 2024 Kabupaten Semarang baru memiliki 24 Desa Tangguh Bencana (Destana). Jumlah tersebut meningkat menjadi 112 desa pada 2026.

Penguatan tersebut dilakukan melalui inovasi Sadewa atau Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana Berbasis Pentahelix dan Digitalisasi Menuju Desa Tangguh Bencana.

“Fokus dari inovasi kami adalah bagaimana kita melakukan orkestrasi kolaborasi pentahelix. Pemerintah, akademi, dunia usaha, masyarakat dan media berkolaborasi membangun satu sinergi ekosistem yang baik untuk bisa membangun wilayah Kabupaten Semarang tanggap dan tangguh terhadap bencana secara berkelanjutan,” ujarnya.

Untuk Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, potensi bencana yang perlu diwaspadai antara lain angin kencang dan longsor. BPBD mendorong pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat desa agar masyarakat memiliki kemampuan melakukan antisipasi sejak dini.

Petani Muda Tinggal 11,8 Persen

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan (Dispertankap) Kabupaten Semarang Edy Sukarno mengungkap tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni minimnya regenerasi petani.

Menurut Edy, sektor pertanian Kabupaten Semarang semakin didominasi petani berusia tua. Sementara anak muda yang mau terjun ke sektor pertanian tinggal sekitar 11,8 persen.

“Semakin lama semakin didominasi petani tua sehingga anak-anak muda kita tinggal 11,8 persen yang mau berkecimpung di sektor pertanian,” kata Edy.

Kondisi tersebut terjadi ketika sektor pertanian juga menghadapi anomali cuaca dan krisis air bersih.

Karena itu, Edy menilai pembangunan pertanian tidak cukup hanya dilakukan melalui program rutin. Diperlukan perubahan kebijakan dan inovasi agar pertanian mampu beradaptasi dengan tantangan baru.

Ia menawarkan konsep Pangan Berdikari dengan empat intervensi utama.

Pertama, pemulihan lahan yang mengalami degradasi melalui agroekosistem terintegrasi berbasis kawasan. Petani didorong menggunakan metode semi organik dan hayati agar kesuburan tanah secara bertahap kembali pulih.

Kedua, petani didorong menanam secara serempak untuk mengantisipasi serangan hama.

Ketiga, pemerintah menyiapkan Sikepang atau Sistem Informasi Ketahanan Pangan Daerah Kabupaten Semarang. Sistem tersebut nantinya digunakan untuk memantau secara real time data tanaman, hasil panen hingga ketersediaan beras di Kabupaten Semarang.

Keempat, penguatan kelembagaan petani dan regenerasi.

Edy mengatakan kelompok tani harus didorong tidak hanya menjadi wadah mengelola lahan, tetapi juga berkembang menjadi unit usaha yang dapat mengakses kemitraan dengan perbankan.

Pemkab juga menyiapkan Sekolah Pangan Lestari untuk mendekatkan generasi muda dengan dunia pertanian.

Desa Kemetul Jadi Contoh Pertanian Semi Organik

Upaya memperkuat ketahanan pangan juga mulai diterapkan di tingkat desa. Salah satunya di Desa Kemetul.

Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo mengatakan desanya mengembangkan tanaman padi semi organik menuju beras sehat. Pengembangan tersebut didukung sumber pengairan sawah yang berasal langsung dari mata air.

Selain meningkatkan produksi, program tersebut diarahkan untuk memulihkan kesehatan tanah.

Saat ini terdapat demplot seluas 10 hektare yang melibatkan sekitar 21 petani.

Hasilnya mulai terlihat. Sebelumnya produktivitas padi berada di kisaran 6,7 ton per hektare. Dalam panen terakhir, hasil terbaik yang diukur BPS mencapai 9,024 ton per hektare, sementara hasil terendah sekitar 8,2 ton per hektare.

Agus berharap peningkatan produksi tersebut diikuti dengan peningkatan nilai jual.

“Kami mendorong kesejahteraan petani. Jadi, baik peningkatan hasil tonase dan juga hasil dari penjualan yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap hasil pertanian Desa Kemetul tidak lagi dijual dalam bentuk gabah, tetapi diolah dan dipasarkan sebagai beras sehingga nilai tambahnya dapat lebih banyak dinikmati petani.

Saat ini pemasaran beras semi organik tersebut masih dilakukan secara terbatas di sekitar Kota Semarang melalui jaringan dan relasi.

Ketahanan Pangan Tak Cukup Hanya Mengejar Produksi

Rangkaian program tersebut menunjukkan strategi Kabupaten Semarang menghadapi ancaman kekeringan tidak berhenti pada persoalan produksi pangan.

Pemerintah daerah juga mulai membangun sistem pertanian yang lebih efisien, memulihkan tanah, memperkuat kesiapan menghadapi bencana, memastikan ketersediaan air bersih, serta menyiapkan generasi muda sebagai penerus sektor pertanian.

Dengan langkah tersebut, ketahanan pangan Kabupaten Semarang diharapkan tidak hanya mampu menghadapi tekanan musim kemarau, tetapi juga lebih siap menghadapi perubahan iklim dan tantangan regenerasi petani di masa mendatang.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *