Bupati Semarang Main Ketoprak, Perankan Adipati di Catur Windu Permadani

Bupati Semarang Main Ketoprak, Perankan Adipati di Catur Windu Permadani (Foto: Taufik)

 

Bupati Semarang Jadi Adipati di Panggung Ketoprak, Ajak Generasi Muda Nguri-uri Budaya Jawa

SEMARANG, SemarangSatu.com – Bupati Semarang Ngesti Nugraha memilih tampil sebagai pemain ketoprak daripada sekadar menjadi tamu kehormatan pada puncak peringatan Catur Windu sekaligus Ambal Warsa ke-35 DPD Permadani Kabupaten Semarang, Sabtu (25/7/2026). Bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), ia memerankan tokoh Adipati Dipokusumo dalam lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang” sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Jawa.

Pementasan ketoprak menjadi acara puncak perayaan HUT ke-35 Permadani Kabupaten Semarang. Lakon tersebut dimainkan oleh seniman Permadani Banyubiru yang didukung kelompok ketoprak Bolo Dupak dari Pati. Untuk menarik antusiasme masyarakat, panitia juga menyediakan hadiah utama satu unit sepeda motor dengan kupon yang dibatasi untuk 2.000 peserta.

Ketua Panitia Catur Windu DPD Permadani Kabupaten Semarang, Much Chlizin, mengatakan pementasan ketoprak bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari upaya menjaga budaya Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat.

“Ini sebenarnya bukan pentas seni, akan tetapi Catur Windu. Jadi ulang tahun Permadani yang ke-35. Namun demikian atas dukungan dari beberapa tokoh masyarakat terutama Forkopimda, ini memang mau mengadakan kegiatan untuk ketoprak. Artinya untuk nguri-uri kebudayaan,” ujarnya sebelum pementasan dimulai.

Menurut Much Chlizin, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mulai memudarnya penggunaan bahasa Jawa di kalangan generasi muda.

“Budaya Jawa itu sementara ini kan sudah banyak sekali anak-anak kecil yang kadang bahasa-bahasa Jawa hilang. Sehingga ini bertujuan untuk melestarikan budaya-budaya Jawa, terutama kaitannya dengan budi pekerti atau pelajaran-pelajaran yang ditinggalkan oleh leluhur orang Jawa zaman dulu,” katanya.

Ia menjelaskan, lakon “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang” mengisahkan perjuangan putra seorang adipati untuk memperoleh kembar mayang sebagai syarat mendapatkan pasangan hidup. Cerita tersebut dipilih karena sarat pesan moral sekaligus mengangkat nilai-nilai budaya Jawa.

Yang membuat pementasan semakin menarik adalah keterlibatan para pejabat daerah. Selain Bupati Semarang yang memerankan Adipati Dipokusumo, sejumlah pejabat Forkopimda juga ikut tampil setelah menjalani latihan bersama sebanyak dua kali.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan keikutsertaan Forkopimda merupakan bentuk apresiasi terhadap Permadani yang selama ini konsisten menjaga seni dan budaya Jawa.

“Malam hari ini puncak peringatan hari ulang tahun DPD Permadani Kabupaten Semarang yang ke-35. Tentunya dengan adanya paguyuban Permadani yang sangat luar biasa ini, yang jumlah anggotanya ada sekitar 7.000 orang, dan juga yang terpenting lagi adalah melestarikan kebudayaan Jawa yang ada di negara kita. Tidak hanya masalah kebudayaannya, tapi juga seninya juga diuri-uri bersama-sama,” kata Ngesti.

Menurut Ngesti, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab seniman, tetapi juga perlu melibatkan generasi muda. Karena itu, Permadani diharapkan terus berkembang dan mampu mengajak anak-anak muda belajar bahasa Jawa Krama Inggil, pranatacara, sopan santun, tata krama, serta pendidikan karakter.

“Kami sangat berharap bahwa nanti DPD Permadani Kabupaten Semarang semakin ngremboko, semakin berkembang, dan juga untuk anak-anak milenial, kawula muda, ini nanti secara bertahap juga akan direkrut oleh Permadani untuk belajar pranatacara, belajar bahasa Jawa Krama Inggil, sopan santun, tata krama, pendidikan karakter anak-anak kita. Ini sangat penting dan ini harus terus kita kembangkan, harus terus kita gelorakan, dan juga kita lestarikan bersama-sama,” ujarnya.

Melalui pementasan “Wahyuning Jodho Tebus Kembar Mayang”, Permadani berharap masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan ketoprak, tetapi juga semakin mencintai bahasa, seni, dan budaya Jawa sebagai warisan yang harus terus dijaga.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *