Kisah Sugianto, Petani Muda Bandungan yang Kembangkan Puspita Flowers hingga Dikenal di Timor Leste

Kisah Sugianto, Petani Muda Bandungan yang Kembangkan Puspita Flowers hingga Dikenal di Timor Leste (Foto: Taufik)

 

Petani Muda Bandungan Kembangkan Puspita Flowers, Pesanan Bunga Potong Mengalir hingga Timor Leste

SEMARANG, SemarangSatu.com – Hamparan greenhouse yang berdiri di lereng Gunung Ungaran menjadi pemandangan yang mudah ditemui di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Udara sejuk dengan suhu yang rendah menjadikan kawasan ini sebagai salah satu sentra budidaya bunga potong terbesar di Jawa Tengah.

Di tengah berkembangnya sektor florikultura tersebut, muncul generasi muda yang memilih bertahan sebagai petani. Salah satunya Sugianto, petani muda asal Bandungan yang mengembangkan usaha bunga potong melalui brand Puspita Flowers.

Berawal dari membudidayakan bunga krisan, kini Puspita Flowers terus berkembang dengan berbagai jenis bunga potong seperti mawar, gerbera hingga bunga pikok. Produk-produknya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan florist, dekorasi pernikahan, hotel, perkantoran maupun berbagai kegiatan seremonial.

Menurut Sugianto, permintaan bunga potong terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

“Permintaan pasar bunga potong terus meningkat terutama krisan, mawar, gerbera dan bunga pikok. Itu membuat kami semakin semangat mengembangkan potensi pertanian bunga di Bandungan,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).

Meningkatnya permintaan membuat Puspita Flowers terus menambah produksi. Tidak hanya melayani pesanan dari Kabupaten Semarang maupun Jawa Tengah, bunga hasil budidaya petani Bandungan kini dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, menurut Sugianto, pesanan juga datang dari Timor Leste sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani bunga di Bandungan.

Ia mengatakan, meningkatnya permintaan pasar juga mendorong para petani untuk terus berinovasi. Mereka tidak hanya memperbanyak tanaman, tetapi juga meningkatkan kualitas bunga agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

“Petani sekarang semakin kreatif. Kami terus mencoba berbagai jenis bunga yang diminati pasar sehingga pembeli punya banyak pilihan,” katanya.

Menurutnya, salah satu faktor yang ikut mengangkat nama Bandungan sebagai sentra bunga adalah Festival Bunga Bandungan. Event tahunan yang baru saja digelar pada 3 hingga 5 Juli 2026 itu menjadi ajang promosi hasil karya petani kepada masyarakat luas.

Festival tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kelima. Ribuan pengunjung datang menyaksikan parade kendaraan hias yang dipenuhi rangkaian bunga hasil budidaya petani lokal. Berbagai pertunjukan seni juga turut memeriahkan festival tersebut.

Bagi Sugianto, dampak festival tidak hanya dirasakan selama acara berlangsung. Setelah Bandungan semakin dikenal sebagai daerah penghasil bunga, permintaan dari konsumen juga ikut meningkat.

“Festival ini sangat membantu petani. Orang jadi tahu kalau Bandungan punya bunga berkualitas. Setelah festival biasanya pesanan juga ikut bertambah,” ungkapnya.

Selain mengembangkan usaha bunga potong, Sugianto juga aktif mengelola Kampung Krisan Clapar bersama Kelompok Tani Gemah Ripah di Dusun Clapar, Desa Duren.

Kawasan agrowisata tersebut berada di Jalan Kendalisodo dengan latar pemandangan lereng Gunung Ungaran. Di lokasi itu terdapat sekitar 180 greenhouse yang membudidayakan sekitar 20 varietas bunga krisan.

Pengunjung tidak hanya menikmati hamparan bunga yang sedang bermekaran, tetapi juga dapat belajar langsung mengenai proses budidaya, mulai dari pembibitan, perawatan hingga panen bunga potong.

Menurut Sugianto, keberadaan Kampung Krisan Clapar menjadi pelengkap promosi florikultura Bandungan. Wisatawan yang datang dapat melihat secara langsung bagaimana bunga-bunga berkualitas diproduksi oleh petani lokal.

Ia berharap semakin banyak anak muda yang tertarik menekuni usaha florikultura. Menurutnya, potensi bisnis bunga potong masih terbuka lebar seiring meningkatnya kebutuhan pasar, didukung kondisi alam Bandungan yang sangat cocok untuk budidaya berbagai jenis bunga.

Dengan berkembangnya Puspita Flowers, meluasnya pasar hingga berbagai daerah bahkan Timor Leste, serta hadirnya Festival Bunga Bandungan sebagai media promosi, Sugianto optimistis florikultura Bandungan akan terus tumbuh dan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di lereng Gunung Ungaran.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *