Demi Viral dan Gift TikTok, Tiga Pelajar Sragen Nekat Jadi Pocong Keliling Kota

Demi Viral dan Gift TikTok, Tiga Pelajar Sragen Nekat Jadi Pocong Keliling Kota (Foto: Ist)

SRAGEN, SemarangSatu.com – Aksi live TikTok bertema “pocong jadi-jadian” yang dilakukan tiga pelajar di Kabupaten Sragen mendadak viral dan menggegerkan warga pada Kamis dini hari (28/5/2026). Konten horor tersebut dilakukan demi mengejar viewers, likes hingga gift monetisasi di media sosial.

Ketiga pelajar itu akhirnya diamankan aparat Polres Sragen saat sedang membuat konten di kawasan Terowongan Rel Kereta Api Timur Pasar Bunder Sragen.

Aksi bermula saat sejumlah pelajar berkumpul di sebuah rumah di kawasan Perumahan Plumbungan Indah, Kecamatan Karangmalang, Sragen pada Rabu malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Di lokasi tersebut mereka mulai menyiapkan kostum menyerupai pocong beserta perlengkapan untuk melakukan siaran langsung di TikTok.

Sekitar pukul 22.30 WIB, live TikTok mulai dijalankan. Dengan menggunakan sepeda motor, mereka berkeliling menuju beberapa titik di pusat Kota Sragen.

Salah satu pelajar berperan sebagai pocong, sementara rekannya bertugas merekam sekaligus melakukan siaran langsung kepada pengguna TikTok.

Rombongan sempat melintas di kawasan Stadion Taruna dan Alun-Alun Sasono Langen Putro sebelum menuju area Terowongan Rel Kereta Api Timur Pasar Bunder yang dikenal minim penerangan saat malam hari.

Lokasi tersebut sengaja dipilih untuk menciptakan suasana mencekam agar menarik perhatian pengguna media sosial.

Tak butuh waktu lama, siaran langsung itu ditonton ratusan pengguna TikTok dan memancing beragam komentar dari warganet.

Namun aksi tersebut akhirnya dihentikan anggota Sat Intelkam Polres Sragen yang sedang melakukan patroli dan monitoring aktivitas media sosial.

Tiga pelajar yang diamankan masing-masing berinisial RA (17) sebagai pemeran pocong, RG (17) operator live TikTok, dan JS (17) yang ikut dalam rombongan.

Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari mengatakan fenomena konten ekstrem demi viralitas media sosial perlu menjadi perhatian bersama, khususnya di kalangan remaja.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya anak-anak muda, agar menggunakan media sosial secara bijak dan kreatif tanpa membuat konten yang menimbulkan keresahan masyarakat maupun membahayakan diri sendiri dan orang lain,” tegas AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.

Menurut Kapolres, aksi para pelajar tersebut memang bertujuan hiburan dan mencari perhatian publik di media sosial. Namun apabila dibiarkan, tren serupa berpotensi memicu keresahan warga hingga gangguan keamanan.

“Jangan sampai demi mengejar viewers, likes ataupun gift di media sosial, justru menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Ruang digital harus dimanfaatkan untuk hal positif, edukatif dan membangun,” lanjutnya.

Hasil pendalaman sementara menunjukkan tidak ditemukan unsur tindak pidana lain selain pembuatan konten hiburan untuk meningkatkan interaksi akun media sosial mereka.

Meski demikian, polisi menilai fenomena semacam ini tidak boleh dianggap sepele karena penggunaan kostum menyeramkan di lokasi sepi berpotensi dimanfaatkan untuk modus tindak kriminal.

“Kami mengedepankan pembinaan terhadap anak-anak ini dengan melibatkan orang tua dan sekolah. Harapan kami, kejadian serupa tidak kembali terulang dan menjadi pelajaran bersama bahwa kebebasan bermedia sosial tetap memiliki batas dan tanggung jawab,” pungkas AKBP Dewiana Syamsu Indyasari.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *