Dari Kota Lama ke Kampus UNDIP: Misi Sandeep Ray Membawa Film Dokumenter ke Semarang
SEMARANG, SemarangSatu.con – Sandeep Ray bukan sekadar akademisi. Ia filmmaker. Selama tiga hari, 19–21 September 2026, ia menjelajah Semarang. Dari Taman Budaya Raden Saleh, Kota Lama, SMA Negeri 3, hingga FISIP UNDIP. Misi utamanya: menjadikan film dokumenter sebagai alat membaca persoalan sosial dan lingkungan.
Kegiatan bertajuk “SDGs Documentary Film Screenings and Community Dialogues for Social Awareness” ini terselenggara atas kerja sama FISIP UNDIP dengan University of Nottingham Malaysia. Sandeep hadir sebagai akademisi dari kampus tersebut.
Tujuannya jelas: memperluas jejaring akademik internasional. Namun, FISIP UNDIP tidak ingin pertukaran pengetahuan hanya berlangsung di dalam kelas. Komunitas dan sekolah ikut dilibatkan.
Berdialog dengan Komunitas Film di TBRS
Hari pertama, Sabtu, 19 September 2026. Bertempat di Sekretariat Dewan Kesenian Semarang, Taman Budaya Raden Saleh. Sekitar 50 peserta dari berbagai komunitas film hadir.
Acara dibuka M. Bayu Widagdo, M.I.Kom., dan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, S.Sos., M.A., M.Si. Sandeep lalu memberi pengantar tentang film dokumenter bertema SDGs. Film diputar. Diskusi mengalir.
Film dokumenter tidak hanya dibahas sebagai produk audiovisual. Ia dilihat sebagai medium merekam realitas sosial dan membangun kesadaran publik.
Merekam Anak-Anak Kota Lama
Hari kedua, Minggu, 20 September 2026. Sandeep menyambangi kelompok kesenian di Kota Lama Semarang. Ia merekam anak-anak yang sedang berlatih kesenian.
Bagi Sandeep, ini kesempatan melihat langsung praktik seni dan budaya yang tumbuh di masyarakat. Aktivitas sehari-hari anak-anak itu menjadi bahan cerita audiovisual yang kaya.
Bagi FISIP UNDIP, kunjungan lapangan ini memperluas makna internasionalisasi. Pertukaran pengetahuan tidak melulu lewat seminar formal.
Dua Sesi di Hari Ketiga
Senin, 21 September 2026. Kegiatan berlanjut melalui program World Class University. Sesi pertama di SMA Negeri 3 Semarang. Sekitar 50 siswa hadir. Kepala Sekolah Rusmiyanto, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani turut hadir.
Sandeep memperkenalkan film dokumenter yang mengangkat persoalan sosial dan lingkungan. Salah satunya tentang rangers atau penjaga hutan di Aceh yang mencegah dan memantau kebakaran hutan.
Siswa tidak hanya menonton. Mereka diajak membuat video dokumenter sederhana dengan isu SDGs di lingkungan sekitar. Setiap kelompok mempresentasikan hasilnya.
Dialog Akademik di FISIP UNDIP
Sesi kedua berlangsung di Ruang PKM Gedung D FISIP UNDIP. Sekitar 150 mahasiswa hadir. Dekan FISIP UNDIP Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Dr. Agus Naryoso, S.Sos., M.Si., dan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani menyambut kehadiran Sandeep.
Prof. Teguh berharap pertemuan ini tidak berhenti pada seminar. Ia ingin kerja sama kedua institusi berkembang lebih luas pada masa mendatang.
Dr. Agus Naryoso menyoroti antusiasme mahasiswa Ilmu Komunikasi terhadap film dokumenter. Menurutnya, ketertarikan itu bisa menjadi modal mengembangkan kajian komunikasi yang merepresentasikan persoalan sosial.
Dalam sesi utama, Sandeep membahas hubungan film dokumenter, komunikasi, dan isu pembangunan berkelanjutan. Materi diperkuat dengan pemutaran film “Aceh Rangers”. Film itu menunjukkan bagaimana persoalan lingkungan diterjemahkan ke dalam narasi audiovisual.
Sesi tanya jawab memberi kesempatan mahasiswa berdialog langsung dengan Sandeep. Mereka membahas film dokumenter, SDGs, dan kemungkinan menjadikannya objek penelitian.
Jembatan Perspektif Global dan Realitas Lokal
Tiga hari, empat lokasi. Komunitas, sekolah, universitas, dan akademisi internasional bertemu dalam satu ruang pertukaran pengetahuan. Film dokumenter menjadi jembatan antara perspektif global dan realitas lokal. Isu SDGs dilihat melalui pengalaman masyarakat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi FISIP UNDIP, kolaborasi ini bagian dari strategi internasionalisasi dan penguatan World Class University. Ke depan, kerja sama diharapkan berlanjut melalui pendidikan, penelitian kolaboratif, pengembangan film dokumenter, hingga pengabdian masyarakat bertaraf internasional.




