Headroom Coffee Solo Jadikan Secangkir Kopi Sarana Belajar Empati
SOLO, SemarangSatu.com – Memesan kopi biasanya dilakukan dengan menyebutkan nama minuman kepada barista. Namun suasana berbeda hadir di Headroom Coffee Solo. Para pengunjung justru diajak memesan minuman menggunakan bahasa isyarat dalam program Bar Take Over bersama Kawan Tuli.
Kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman baru bagi pelanggan. Bukan sekadar menikmati secangkir kopi, mereka juga belajar cara berkomunikasi dengan teman-teman Tuli melalui bahasa isyarat sederhana.
Sepanjang acara, anggota Kawan Tuli mendampingi pengunjung mengenal berbagai gerakan dasar, mulai dari memesan menu, mengucapkan terima kasih, hingga berinteraksi langsung dengan barista.
Awalnya banyak pengunjung terlihat ragu saat mencoba bahasa isyarat. Namun perlahan suasana berubah menjadi lebih cair. Satu per satu pengunjung mulai mempraktikkan isyarat yang diajarkan untuk memesan minuman.
Bagi Headroom Coffee, kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen menghadirkan ruang yang terbuka bagi semua orang.
“Di balik setiap cangkir kopi selalu ada ruang untuk saling memahami. Hari ini kami belajar bahwa komunikasi bisa hadir dalam banyak cara, dan bahasa isyarat adalah salah satunya. Kami berharap pengalaman sederhana ini dapat menumbuhkan empati sekaligus membuat lebih banyak orang merasa diterima.”
Melalui kolaborasi tersebut, Headroom Coffee ingin menunjukkan bahwa kopi tidak hanya menjadi minuman, tetapi juga dapat menjadi media yang mempertemukan berbagai cerita dan memperluas cara pandang terhadap keberagaman.
Antusiasme pengunjung terlihat sepanjang kegiatan. Banyak di antara mereka yang berusaha menghafalkan beberapa kosakata bahasa isyarat dan langsung menggunakannya ketika memesan kopi.
Interaksi sederhana antara pelanggan, barista, dan teman-teman Kawan Tuli menciptakan suasana yang hangat sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih inklusif.
Headroom Coffee juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota Kawan Tuli yang telah berbagi pengetahuan, pengalaman, serta semangat selama program Bar Take Over berlangsung.
Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi langkah kecil untuk mendorong lahirnya lebih banyak ruang publik yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Headroom Coffee sendiri sejak awal dibangun sebagai ruang bertemu, berbagi cerita, dan memperluas perspektif. Melalui berbagai program kolaboratif, coffee shop ini terus berupaya menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghadirkan cita rasa kopi, tetapi juga nilai kebersamaan.
Bagi Headroom Coffee, secangkir kopi akan terasa lebih hangat ketika setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari percakapan, apa pun cara mereka berkomunikasi.




