365 Hari Menunggu Mozza Pulang, Curahan Hati Sang Adik Bikin Haru
SEMARANG, SemarangSatu.com – Sudah 365 hari Orlin menunggu kakaknya pulang. Selama itu pula, tak ada lagi teman berbagi cerita, tak ada lagi sosok yang menemaninya tidur, maupun mengajaknya berjalan-jalan seperti dulu. Sejak Mozza Axillia Gunarsa (18), warga Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, dilaporkan hilang, kerinduan sang adik tak pernah surut.
Di usianya yang masih belia, Orlin mungkin belum memahami rumitnya proses penyelidikan yang dilakukan polisi. Namun, ia tahu satu hal yang paling diinginkannya, yakni melihat sang kakak kembali membuka pintu rumah dan memeluk keluarganya.
Dengan suara pelan, Orlin mengirimkan doa untuk Mozza.
“Kakak sehat-sehat ya, biar cepat pulang. Biar bisa kumpul sama Ayah sama Mama, terus bisa pergi bareng lagi.”
Bagi Orlin, kebahagiaan tidak harus berupa hadiah atau barang baru. Ia hanya ingin mengulang momen-momen sederhana yang dulu hampir setiap hari dilakukan bersama kakaknya.
“Aku kangen bisa satu rumah lagi, bisa jajan lagi sama Kakak, pergi bareng lagi, sama tidur lagi sama Kakak.”
Kalimat itu menggambarkan betapa besarnya kehilangan yang dirasakan keluarga sejak Mozza menghilang. Kini, Orlin harus terbiasa menjalani hari-harinya tanpa sosok kakak yang selama ini selalu menemaninya.
Saat diberi kesempatan menyampaikan pesan jika suatu hari Mozza dapat mendengarnya, Orlin tak mampu menyembunyikan rasa rindunya.
“Aku sayang sama Kakak. Aku sayang banget sama Kakak. Aku pengen peluk Kakak lagi.”
Lalu, dengan harapan yang tak pernah berubah sejak setahun terakhir, ia menutup pesannya.
“Cepat pulang ya, Kak. Aku berharap Kakak cepat pulang, biar aku bisa sama Kakak lagi.”
Sementara itu, harapan keluarga untuk menemukan Mozza masih diiringi kerja keras aparat kepolisian. Satreskrim Polres Semarang memastikan penyelidikan kasus tersebut masih terus berjalan dan belum dihentikan.
Kasatreskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana mengungkapkan, hasil penyelidikan menemukan fakta bahwa alasan Mozza berpamitan hendak mengantarkan laptop kepada seorang teman ternyata tidak sesuai dengan hasil penelusuran penyidik.
Sebelum meninggalkan rumah pada Rabu, 25 Juni 2025 sekitar pukul 10.00 WIB, Mozza sempat mengirim pesan WhatsApp kepada orang tuanya. Dalam pesan itu, ia mengaku hendak menemui seorang teman di sekitar kawasan Makodam Semarang untuk mengantarkan laptop.
Namun setelah penyidik meminta keterangan kepada teman yang dimaksud, informasi tersebut tidak terbukti.
“Kami tidak bisa berasumsi terkait motif dari yang bersangkutan. Berdasarkan informasi awal, yang bersangkutan sempat berpamitan hendak ke rumah temannya karena mengaku sudah memiliki janji. Namun setelah kami lakukan penelusuran, temannya mengaku tidak pernah memiliki janji dengan yang bersangkutan,” ujar Bodia.
Menurut Bodia, hingga kini penyidik masih mendalami berbagai kemungkinan dan belum dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi setelah Mozza meninggalkan rumah.
“Sampai saat ini yang bersangkutan belum ditemukan. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan,” katanya.
Dalam proses penyelidikan, polisi juga telah menemukan telepon seluler milik Mozza yang diduga sempat dibuang. Barang bukti tersebut kini menjadi salah satu petunjuk penting untuk menelusuri jejak keberadaan Mozza.
Penanganan kasus ini mendapat dukungan Direktorat Reserse Kriminal Umum, Direktorat Reserse Siber, serta Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA-PPO) Polda Jawa Tengah. Polisi bersama keluarga juga telah melakukan pencarian hingga ke sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur.
Berdasarkan data kepolisian, saat meninggalkan rumah Mozza mengenakan baju putih lengan panjang, berhijab, memakai sandal krem merek Reebok, dan mengendarai sepeda motor Honda Vario 125 hitam bernomor polisi H 5344 ALC tanpa membawa STNK.
Setahun telah berlalu. Penyelidikan masih terus dilakukan, sementara keluarga tak pernah berhenti berharap. Di rumah sederhana di Desa Gebugan, doa Orlin tetap sama setiap hari, semoga suatu saat nanti kakaknya pulang sehingga mereka bisa kembali berkumpul sebagai keluarga yang utuh.




