Astra Bisa Datang? Rutin Antar Anak PAUD, Mama Muda Menanti Edukasi Safety Riding

Astra Bisa Datang? Rutin Antar Anak PAUD, Mama Muda Menanti Edukasi Safety Riding (Foto: Ilustrasi/Ist)

 

 

Mama Muda Ana Menunggu Edukasi Safety Riding untuk Orang Tua dan Anak

SEMARANG, SemarangSatu.com – Jarum jam belum menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika Ana (32) mulai mengenakan helm. Di depan rumahnya di kawasan Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, sang buah hati sudah bersiap dengan tas sekolah di punggungnya. Hampir setiap hari, ibu muda itu mengantar anaknya menuju PAUD menggunakan sepeda motor.

Perjalanan mereka memang tidak terlalu jauh. Namun, bagi Ana, setiap meter jalan memiliki tantangan tersendiri.

Dari lingkungan tempat tinggalnya, ia harus melewati jalan perumahan yang naik-turun, beberapa tikungan yang pandangannya terbatas, hingga bertemu jalan utama yang setiap pagi dipenuhi kendaraan menuju pusat Kota Semarang. Di jam yang sama, arus pekerja, pelajar, kendaraan logistik hingga angkutan umum bercampur menjadi satu.

Di tengah kondisi itu, perhatian Ana tak pernah lepas dari anaknya yang duduk di depan. Sesekali minta duduk di belakang, sambil diikat ke tubuhnya menggunakan kain jarik.

“Sebagai ibu, pikiran saya bukan bagaimana cepat sampai sekolah, tetapi bagaimana anak saya bisa sampai dengan selamat. Setiap pagi jalan sudah ramai, banyak motor dan mobil melintas. Di daerah Pudakpayung jalannya juga naik turun, jadi saya harus benar-benar fokus saat berkendara,” tutur Ana, Kamis (30/7/2026).

Ia mengaku, menjadi orang tua membuat cara pandangnya terhadap keselamatan di jalan berubah. Dahulu, berkendara hanya soal mengendalikan sepeda motor. Kini, setiap keputusan saat berada di jalan harus mempertimbangkan keselamatan anak yang ikut bersamanya.

Menurut Ana, kekhawatiran bukan hanya datang dari pengendara lain. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sering kali belum memahami bahaya di sekitar mereka.

“Kadang anak melihat sesuatu yang menarik langsung menoleh atau bergerak. Itu yang membuat saya berpikir, ternyata bukan hanya orang tua yang perlu belajar safety riding, tetapi anak-anak juga harus mulai dikenalkan tentang keselamatan sejak kecil,” katanya.

Ana bahkan mengaku beberapa kali melihat anak-anak seusia putranya berlari menyeberang jalan tanpa melihat kanan dan kiri ketika pulang sekolah. Pemandangan itu membuatnya semakin yakin bahwa pendidikan keselamatan berlalu lintas tidak bisa menunggu anak dewasa.

Edukasi Ibu dan Anak

Karena itulah, ia berharap ada lebih banyak kegiatan edukasi yang melibatkan orang tua sekaligus anak.

“Saya ingin belajar bagaimana cara mengendarai motor yang lebih aman saat membawa anak. Tapi saya juga ingin anak saya mendapatkan pendidikan keselamatan sejak PAUD. Kalau kami sama-sama belajar, tentu akan lebih mudah diterapkan setiap hari,” ujarnya.

Ana berharap edukasi keselamatan berkendara tidak hanya diberikan kepada anak-anak, tetapi juga melibatkan para orang tua. Menurutnya, kehadiran instruktur profesional yang datang langsung ke sekolah akan memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibanding sekadar penyampaian materi di dalam kelas.

“Kalau ada instruktur safety riding yang datang langsung ke sekolah tentu akan lebih menarik. Anak-anak bisa belajar sambil praktik dan bermain, sedangkan orang tua juga mendapat pengetahuan bagaimana membawa anak dengan aman saat naik motor. Jadi ilmunya tidak berhenti di sekolah, tapi bisa diterapkan setiap hari di rumah,” ujarnya.

Ia menilai edukasi dari pihak yang memang memiliki kompetensi di bidang keselamatan berkendara akan lebih mudah diterima oleh siswa maupun orang tua. Selain menambah wawasan, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman baru bagi anak-anak karena mereka dapat belajar langsung melalui simulasi, permainan, hingga praktik sederhana yang menyenangkan.

“Bagi anak-anak, kegiatan seperti ini pasti menjadi pengalaman baru. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga melihat langsung bagaimana cara aman menyeberang jalan, mengenali suara kendaraan, sampai pentingnya memakai helm. Orang tua juga jadi lebih paham sehingga bisa mengulang pelajaran itu saat mengantar atau menjemput anak sekolah,” kata Ana.

Menurut Ana, kolaborasi antara sekolah dan lembaga yang memiliki kompetensi di bidang keselamatan berkendara, seperti yang selama ini dilakukan Astra Motor Jawa Tengah melalui program Safety Riding, menjadi langkah yang efektif untuk membangun budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini. Dengan cara itu, siswa memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, sementara orang tua mendapat bekal untuk menerapkan kebiasaan berkendara yang lebih aman dalam kehidupan sehari-hari.

Safety Riding Masuk Kelas

Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Burhanudin Mey, mengatakan banyak orang mengira anak-anak baru bisa belajar keselamatan ketika sudah besar. Padahal, usia dini justru menjadi masa terbaik membentuk kebiasaan.

Menurutnya, anak perlu dikenalkan bahwa suara di jalan merupakan sinyal bahaya pertama yang harus dikenali. Salah satunya dilakukan di PAUD Kartini Pandean Lamper, Kota Semarang.

“Anak-anak usia dini punya rasa ingin tahu yang besar, dan pendengaran mereka justru lebih peka dibanding kita duga. Dengan membiasakan mereka mengenali suara jalan sejak kecil, kita membekali anak dengan naluri keselamatan yang akan terus terbawa hingga dewasa. Ini adalah investasi keselamatan jangka panjang untuk generasi pengguna jalan yang lebih aman,” kata Burhanudin.

Dalam edukasi tersebut, Astra Motor Jawa Tengah mengenalkan empat kebiasaan sederhana kepada anak-anak.

Mulai dari mengenali bunyi klakson, suara mesin dan rem kendaraan melalui permainan, membiasakan langkah “Berhenti, Dengar, Lihat, Baru Menyeberang”, memanfaatkan aplikasi edukasi interaktif berbasis animasi, hingga mengajak orang tua dan guru menjadi contoh nyata setiap kali mendampingi anak di jalan.

Di tengah semakin padatnya lalu lintas Kota Semarang, terutama di kawasan berkembang seperti Pudakpayung yang dipenuhi permukiman baru dengan kontur jalan berbukit, keselamatan berkendara menjadi kebutuhan setiap keluarga.

Bagi Ana, perjalanan mengantar anak ke sekolah bukan sekadar rutinitas harian. Di balik perjalanan singkat itu, ada harapan sederhana yang selalu ia bawa setiap pagi: berangkat bersama, dan pulang ke rumah dengan selamat.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *