Menjelajah Jejak Maritim, 600 Siswa Ar Rido Semarang Unjuk Gigi di Panggung Budaya

Menjelajah Jejak Maritim, 600 Siswa Ar Rido Semarang Unjuk Gigi di Panggung Budaya (Foto: Taufik)

Megahnya Benteng Sorawalio hingga Kisah Haru Orang Tua di Indonesian Culture Ar Rido Semarang

SEMARANG, SemarangSatu.com – Suasana panggung di Sekolah Alam Ar Rido Semarang tampak berbeda dari biasanya. Replika dinding bata layaknya sebuah benteng kokoh berdiri di depan panggung. Tepat di depannya, papan kayu besar bertuliskan “Benteng Sorawalio Indonesian Culture 2026” terpampang jelas.

Di atas panggung, layar raksasa menampilkan lukisan kapal-kapal layar besar tengah berlayar di lautan biru. Sejumlah siswa tampil memukau. Ada yang mengenakan pakaian adat berwarna cerah, penutup kepala khas, hingga busana bernuansa maritim. Mereka bukan sekadar berpose, melainkan membawakan cerita tentang kejayaan laut Nusantara.

Gelaran bertajuk “Menjelajah Jejak Menjaga Maritim Indonesia” ini menjadi panggung bagi sekira 600 siswa dari tingkat Playgroup (PG) hingga SMA, Sabtu (17/10/2026).

Direktur Sekolah Alam Ar Rido Semarang, Mia Inayati Rahmania, menjelaskan alasan kuat di balik pemilihan tema maritim yang jarang diangkat oleh sekolah lain.

“Iya, karena ada pemikiran begini. Kita tuh negara kepulauan yang dikelilingi oleh air, maka sebutan maritim itu sangat khas dengan Indonesia,” ujar Mia.

Ia memaparkan, jauh sebelum penjajah datang, Indonesia sudah dikenal sebagai negara maritim yang disegani. Kapal-kapal dan armada lautnya yang kokoh menjadi saksi bisu kejayaan tersebut.

“Kaitannya dengan bagaimana bangsa-bangsa datang ke Indonesia, pedagang datang untuk mengambil rempah-rempah. Dengan perjalanan laut mereka masuk. Indonesia juga sudah dikenal sebagai negara maritim kala itu dengan angkatan lautnya yang luar biasa, yang kokoh sampai hari ini saja masih diteliti kapal-kapal yang dibuat di zaman dahulu kala,” jelasnya.

Mia menyayangkan selama ini tema kekayaan hutan dan daratan lebih sering diangkat dibandingkan maritim. Padahal, Indonesia sangat lengkap.

“Semuanya memang Indonesia sangat lengkap sekali. Cuma yang maritim ini kok kurang. Sehingga kemudian harapannya anak-anak dengan belajar dari sejarah, kelak mereka besar akan menjaga maritim Indonesia,” tambahnya.

Menjelajah Jejak Maritim, 600 Siswa Ar Rido Semarang Unjuk Gigi di Panggung Budaya (Foto: Taufik)

Kolaborasi Dua Bulan dan 600 Siswa

Indonesian Culture tahun ini bukan sekadar pertunjukan seni di atas panggung. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi raksasa yang melibatkan seluruh ekosistem sekolah.

“Semua terlibat. Total banyak sekali, hampir 600 orang,” ungkapnya.

Tidak hanya siswa, para orang tua dan pelaku UMKM juga mengambil peran vital. Menurut Mia, acara ini adalah ruang pertemuan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan orang tua, hingga siswa dengan komunitas.

Proses di balik panggung meriah ini pun tidak instan. Para siswa mendalami tema maritim selama dua bulan di dalam kelas. Sesuai level usia, guru mengambil subtema yang berbeda-beda. Hasilnya dituangkan dalam pertunjukan panggung, stan galeri literasi, hingga sajian makanan olahan hasil maritim.

“Tapi kalau persiapan untuk panggung dan lain sebagainya sekitar dua minggu. Di sela-sela belajar, pulang sekolah, istirahat,” jelasnya.

Gelaran ini merupakan agenda tahunan dengan tema yang selalu berganti. Tahun lalu, sekolah ini mengusung tema Pangeran Diponegoro, dan sebelumnya mengangkat keunikan sejarah Semarang.

Menjelajah Jejak Maritim, 600 Siswa Ar Rido Semarang Unjuk Gigi di Panggung Budaya (Foto: Taufik)

Dari Takut Ketinggian Jadi Berani

Di balik gemerlap panggung dan kerja keras dua bulan tersebut, dampaknya ternyata dirasakan langsung oleh para orang tua. Perubahan positif para siswa itu terekam dalam pesan di grup WhatsApp Keluarga Besar SMP Ar Ridho.

Cahyati, orang tua siswa Wangga, mengungkapkan rasa terharunya saat menyaksikan penampilan anaknya, Wangga. Ia pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru.

“Aaahhh jadi terharu, tadi nonton juga bisa mrembes mili. Alhamdulillah Terimakasih Bapak Ibu guru sudah mendidik Wangga jadi betah d sekolah, happy sekali jadi tim dekor,” ujarnya.

Yang paling membuatnya kagum adalah perubahan karakter sang anak. Jika dulu Wangga dikenal kalem dan takut ketinggian, kini ia menjelma pribadi yang jauh lebih percaya diri.

“Banyak bgt perkembangan dari kalem takut ketinggian, skrg meyakinkan saya ‘skrg kaka berani bun, aman bismillah’. Speechless… Hari ini anak2 SMP Aridho luar biasaaaa,” tambahnya.

Hal senada dirasakan Titah ibunda dari Fathiyah. Ia memberikan apresiasi mendalam bagi para guru dan coach yang dinilainya tak pernah kehabisan energi untuk membimbing siswa.

“Pertama, terimakasih banyak kami sampaikan kpd bapk ibu guru & coach smp ar ridho yang seperti biasanya, keren tiada tara, sama spt anak2, energinya nggak habis2,” tulisnya.

Muli Sembadra orangtua dari Daira Yumnaa pun membenarkan hal tersebut. Ia menutup dengan ungkapan kekagumannya terhadap dedikasi para pengajar.

“Setuju sekali dengan semua yg disampaikan buibu/pakbapak di sini. Kami mengucapkan banyak2 terimakasih dan apresiasi tak hingga kagem Bapak dan Ibu guru SMP Alam Arridho Semarang, untuk all out nya membersamai dan memacu anak2 mengeluarkan kemampuan terbaiknya,” ungkapnya.

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *