Menyusuri Jateng Valley yang Mangkrak: Jalan Teduh, Lereng Curam, dan Mimpi Wisata Rp2 Triliun

Mimpi Wisata Terbesar Asia Tenggara Terhenti, Begini Kondisi Jateng Valley Sekarang

SEMARANG, SemarangSatu.com – Perjalanan menuju Jateng Valley di kawasan Hutan Penggaron, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, terasa seperti memasuki kawasan wisata alam.

Jalan yang dilalui cukup teduh. Pohon-pohon besar tumbuh rapat di kanan dan kiri jalan, membentuk semacam kanopi alami. Udara terasa lebih sejuk dibanding kawasan perkotaan.

Namun, suasana nyaman itu tidak berlangsung tanpa kewaspadaan.

Jalan menuju kawasan Jateng Valley melewati medan perbukitan. Ruasnya berkelok, dengan sejumlah bagian berada di sisi lereng. Pengendara harus lebih berhati-hati ketika melewati jalur tersebut, terutama saat kondisi jalan basah setelah hujan.

Rimbunnya pepohonan memang menjadi daya tarik tersendiri. Tetapi kondisi kontur tanah dan keberadaan lereng di sisi jalan juga membuat potensi longsor menjadi persoalan yang perlu diperhatikan apabila kawasan tersebut kembali dikembangkan sebagai destinasi wisata.

Semakin mendekati kawasan Jateng Valley, suasana justru semakin sepi.

Tidak terlihat geliat kawasan wisata besar seperti yang pernah dibayangkan. Aktivitas kendaraan tidak banyak. Bangunan dan fasilitas yang seharusnya menjadi bagian dari destinasi wisata juga belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru.

Sampai akhirnya papan nama Jateng Valley terlihat.

Nama itu masih berdiri. Namun, kondisi di sekitarnya justru memunculkan pertanyaan besar.

Jateng Valley pernah digadang-gadang sebagai destinasi wisata terbesar di Asia Tenggara. Proyek seluas sekitar 372 hektare tersebut melakukan groundbreaking pada 15 Agustus 2020 dengan nilai investasi yang disebut mencapai sekitar Rp2 triliun melalui skema kerja sama pemerintah, Perhutani dan pihak swasta.

Konsep yang ditawarkan pun bukan proyek wisata biasa. Jateng Valley dirancang memiliki taman futuristik, hotel hingga Noah’s Ark.

Tetapi pembangunan berhenti sejak 2021.

Kini, kawasan yang seharusnya menjadi magnet wisata justru menghadirkan kesan berbeda. Proyek yang sempat membawa harapan besar itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kembali bergerak.

Padahal, kawasan Hutan Penggaron bukanlah wilayah yang tidak memiliki daya tarik wisata.

Sebelum proyek Jateng Valley dimulai, kawasan tersebut sudah dikenal sebagai lokasi berbagai kegiatan. Warga sekitar pernah merasakan ramainya aktivitas perkemahan, kegiatan Pramuka, SAR, prewedding hingga off road.

Warung-warung warga pun ikut mendapatkan manfaat dari kedatangan pengunjung.

Namun, harapan itu ikut meredup setelah proyek wisata tersebut berhenti.

Kondisi ini membuat perjalanan menuju Jateng Valley terasa paradoksal. Alamnya masih menyimpan potensi besar. Pepohonannya masih rindang. Udara masih sejuk. Kontur perbukitannya justru bisa menjadi daya tarik wisata alam.

Tetapi proyek yang seharusnya menghidupkan potensi tersebut malah terhenti.

Persoalan akses juga tidak bisa dilepaskan begitu saja. Jalan menuju kawasan tersebut menjadi bagian penting yang harus dibenahi jika Jateng Valley benar-benar hendak dihidupkan kembali.

Selain kondisi jalan, keamanan lereng dan potensi pergerakan tanah juga perlu menjadi perhatian. Apalagi jalur menuju lokasi melewati kawasan berbukit dengan sisi jalan yang berbatasan dengan lereng.

Pengembangan wisata sebesar Jateng Valley tentu tidak cukup hanya dengan membangun wahana dan fasilitas. Infrastruktur menuju lokasi harus aman dan memadai bagi wisatawan maupun warga.

Sebab, sebelum wisatawan melihat hotel, taman futuristik atau wahana yang dijanjikan, mereka terlebih dahulu harus melewati jalan menuju lokasi.

Hari ini, perjalanan menuju Jateng Valley justru memperlihatkan ironi sebuah proyek besar.

Alamnya masih hidup.

Pemandangannya masih menjanjikan.

Tetapi proyek wisatanya seperti berhenti di tengah jalan.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi seberapa besar konsep Jateng Valley ketika pertama kali dirancang. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah kapan kawasan ini benar-benar akan kembali bergerak dan siapa yang akan memastikan proyek tersebut tidak kembali menjadi bangunan mangkrak di tengah hutan.

Jika dibiarkan terlalu lama, Jateng Valley bukan hanya kehilangan potensi sebagai destinasi wisata. Harapan warga sekitar untuk kembali mendapatkan geliat ekonomi dari kawasan tersebut juga ikut tertahan.

Jateng Valley masih punya alam untuk dijual. Masih punya lokasi strategis. Masih punya cerita besar.

Yang belum jelas adalah masa depannya.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *