SEMARANG, SemarangSatu.com – Meningkatnya aktivitas wisata selama musim liburan membuat lalu lintas di sejumlah kota dan kawasan wisata di Jawa Tengah semakin padat. Di tengah kondisi tersebut, para pengguna jalan tidak hanya dituntut memiliki keterampilan mengendalikan kendaraan, tetapi juga kemampuan menjaga emosi, memahami situasi, serta menghargai pengguna jalan lainnya.
Salah satu kondisi yang kerap ditemui saat musim liburan adalah keberadaan pengendara luar kota yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Mereka sering terlihat melambat di persimpangan, berhenti sejenak untuk memastikan arah perjalanan, atau bahkan bergerak ragu-ragu karena mengikuti petunjuk dari aplikasi navigasi digital.
Situasi seperti itu tidak jarang memicu reaksi negatif dari pengguna jalan lain. Klakson panjang, teriakan, hingga tindakan agresif di jalan masih sering terjadi ketika ada pengendara yang dianggap menghambat arus lalu lintas.
Padahal, menurut Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, sikap emosional justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan bagi semua pihak.
Ia menjelaskan bahwa pengendara yang sedang berada di wilayah baru membutuhkan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan pengguna jalan yang sudah terbiasa melintasi rute tersebut setiap hari.
Selain harus memperhatikan kondisi lalu lintas, mereka juga harus membaca petunjuk arah, mengenali lokasi tujuan, hingga menyesuaikan diri dengan karakter jalan yang belum familiar.
“Dalam situasi lalu lintas yang padat dan dinamis, setiap pengendara perlu memiliki empati serta kemampuan membaca potensi risiko di sekitarnya. Pengendara yang sedang mencari arah atau menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tentu membutuhkan ruang dan toleransi dari pengguna jalan lain,” ujar Oke Desiyanto.
Menurutnya, sikap saling memahami menjadi salah satu kunci penting untuk menjaga keselamatan selama musim liburan.
Ketika menemukan kendaraan yang terlihat ragu-ragu atau bergerak tidak stabil, pengguna jalan sebaiknya tidak langsung terpancing emosi. Sebaliknya, kondisi tersebut harus dibaca sebagai sinyal bahwa pengendara tersebut kemungkinan sedang mencari arah atau berusaha memahami petunjuk navigasi.
Dalam banyak kasus, pengendara yang kebingungan cenderung melakukan manuver mendadak seperti mengerem secara tiba-tiba atau berpindah jalur tanpa persiapan yang cukup.
Jika pengendara lain sudah lebih dulu emosi dan berkendara terlalu dekat, risiko tabrakan akan semakin besar.
Karena itu, Astra Motor Jateng mengimbau masyarakat untuk membiasakan diri menjaga jarak aman ketika berada di belakang kendaraan yang dicurigai sedang mencari jalan.
Jarak aman yang lebih panjang memberikan ruang bagi pengendara untuk mengantisipasi perubahan arah maupun pengereman mendadak.
Selain menjaga jarak, pengendara juga disarankan menghindari posisi blind spot atau titik buta kendaraan lain.
Posisi di samping belakang mobil atau bus pariwisata sangat berisiko karena pengemudi yang sedang fokus mencari lokasi tujuan bisa saja tidak menyadari keberadaan kendaraan lain di sekitarnya.
Dalam kondisi tertentu, komunikasi sederhana juga dapat membantu mencegah kecelakaan.
Oke menyarankan penggunaan klakson pendek sebagai tanda keberadaan kendaraan, bukan sebagai bentuk kemarahan atau tekanan kepada pengguna jalan lain.
Ketika melihat kendaraan yang bergerak zig-zag atau tampak ragu-ragu di persimpangan, pengendara dapat memberikan dua kali bunyi klakson pendek untuk memberi tahu keberadaannya.
Sebaliknya, penggunaan klakson panjang yang bernada agresif justru berpotensi membuat pengendara lain panik sehingga mengambil keputusan yang salah.
Menurut Oke, keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dalam mengoperasikan kendaraan.
Kemampuan memahami kondisi lalu lintas, membaca potensi bahaya, serta menjaga emosi juga menjadi bagian penting dari budaya keselamatan berkendara.
Apalagi selama musim liburan, jalan raya dipenuhi pengendara dengan berbagai latar belakang dan tingkat pengalaman yang berbeda-beda.
Ada pengendara yang sudah mengenal rute dengan baik, namun ada pula yang baru pertama kali melintasi jalur tersebut.
Karena itu, sikap toleran dan saling menghormati harus menjadi budaya bersama agar perjalanan seluruh pengguna jalan tetap aman dan nyaman.
“Keahlian berkendara bukan hanya soal kemampuan mengendalikan kendaraan, tetapi juga kemampuan memahami situasi, memberi ruang kepada pengguna jalan lain, dan menjaga keselamatan bersama. Dengan sikap saling menghargai, kita dapat menciptakan perjalanan yang aman dan nyaman bagi semua,” tegasnya.
Melalui kampanye #Cari_Aman, Astra Motor Jateng terus mengingatkan bahwa keselamatan di jalan raya merupakan tanggung jawab bersama. Dengan mengedepankan empati, kesabaran, dan etika berkendara yang baik, risiko kecelakaan dapat ditekan sekaligus menciptakan suasana perjalanan yang lebih nyaman bagi seluruh pengguna jalan.




