SEMARANG, SemarangSatu.com – Cuaca panas yang melanda sejumlah daerah di Jawa Tengah ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi fisik pengendara motor. Suhu udara yang tinggi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang saat berada di jalan raya, mulai dari meningkatnya tingkat stres hingga memicu emosi yang lebih mudah tersulut.
Fenomena tersebut menjadi perhatian Astra Motor Jateng seiring meningkatnya intensitas panas yang dirasakan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Saat berkendara di bawah terik matahari, tubuh bekerja lebih keras untuk menyesuaikan suhu sehingga energi lebih cepat terkuras.
Akibatnya, pengendara menjadi lebih mudah lelah, kurang sabar, dan rentan bereaksi berlebihan terhadap situasi yang sebenarnya sepele di jalan.
Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, mengatakan cuaca panas dapat menjadi faktor yang memperpendek kontrol emosi seseorang saat berkendara.
Menurutnya, kondisi ini sering tidak disadari pengendara karena dianggap hanya sebagai rasa gerah biasa.
Padahal ketika tubuh mengalami kelelahan akibat panas, kemampuan mengendalikan emosi ikut menurun.
“Cuaca panas ekstrem dapat menjadi pemicu munculnya emosi yang lebih cepat dibandingkan kondisi normal,” kata Oke.
Situasi tersebut kerap terlihat saat terjadi kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan seperti Semarang maupun Solo pada siang hari.
Senggolan kecil, kendaraan yang memotong jalur tanpa lampu sein, atau pengendara lain yang dianggap menghambat perjalanan sering kali menjadi pemicu pertengkaran di jalan.
Dalam kondisi normal, gangguan seperti itu mungkin masih dapat direspons dengan tenang.
Namun ketika tubuh sudah lelah akibat panas dan dehidrasi, reaksi yang muncul bisa jauh lebih emosional.
Oke menjelaskan bahwa saat emosi mengambil alih, kemampuan berpikir rasional akan menurun.
Pengendara cenderung mengambil keputusan secara spontan tanpa mempertimbangkan risiko keselamatan.
Akibatnya, tindakan berbahaya seperti mengejar kendaraan lain, berkendara agresif, atau melakukan manuver mendadak lebih mudah terjadi.
“Ketika emosi menguasai diri, fokus terhadap keselamatan bisa hilang dalam hitungan detik,” ujarnya.
Selain memicu emosi, suhu udara yang tinggi juga berdampak pada kemampuan refleks pengendara.
Tubuh yang kehilangan cairan akibat dehidrasi akan mengalami penurunan fungsi konsentrasi dan koordinasi gerak.
Hal tersebut membuat waktu reaksi menjadi lebih lambat ketika menghadapi kondisi darurat di jalan.
Misalnya saat harus menghindari kendaraan yang tiba-tiba berhenti atau pejalan kaki yang menyeberang secara mendadak.
Dalam situasi tersebut, keterlambatan sepersekian detik saja dapat menentukan terjadinya kecelakaan.
Tak hanya itu, cuaca panas juga memengaruhi kondisi kendaraan, terutama pada bagian ban.
Menurut Oke, aspal yang terus-menerus terpapar sinar matahari akan mengalami peningkatan suhu yang cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat kompon ban menjadi lebih lunak dibandingkan biasanya.
Akibatnya, daya cengkeram ban terhadap permukaan jalan dapat mengalami penurunan secara bertahap.
Walaupun tidak selalu terasa secara langsung oleh pengendara, perubahan kecil tersebut tetap berpotensi memengaruhi stabilitas kendaraan, terutama saat melakukan pengereman mendadak atau bermanuver di tikungan.
Masalah lain yang sering terjadi saat cuaca panas adalah meningkatnya produksi keringat pada telapak tangan.
Jika pengendara tidak menggunakan sarung tangan yang sesuai, genggaman pada handgrip motor dapat menjadi lebih licin.
Kondisi itu dapat mengurangi kenyamanan sekaligus kontrol terhadap kendaraan.
Karena itu, penggunaan perlengkapan berkendara yang tepat menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keselamatan selama musim kemarau.
Oke menyarankan pengendara menggunakan jaket yang memiliki sirkulasi udara baik namun tetap dilengkapi pelindung pada bagian penting tubuh.
Selain itu, visor helm harus selalu dijaga kebersihannya agar pandangan tetap jelas saat menghadapi silau matahari.
Menurutnya, langkah paling sederhana yang sering dilupakan pengendara adalah menjaga kecukupan cairan tubuh.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu haus sebelum minum.
“Kalau sudah haus, itu tandanya tubuh mulai mengalami dehidrasi ringan. Sebaiknya minum secara berkala sebelum rasa haus muncul,” katanya.
Pengendara juga dianjurkan beristirahat setiap 60 hingga 90 menit saat melakukan perjalanan jarak jauh.
Selain mengembalikan energi, waktu istirahat dapat membantu menurunkan suhu tubuh dan mengurangi ketegangan selama berkendara.
Oke menegaskan bahwa keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kondisi kendaraan yang prima, tetapi juga kesiapan fisik dan mental pengendara.
Karena itu, kemampuan mengendalikan emosi menjadi bagian penting dari budaya keselamatan di jalan raya.
“Berkendara bukan hanya soal kemampuan mengoperasikan kendaraan. Mengelola energi tubuh, menjaga fokus, mengontrol emosi, dan selalu menerapkan prinsip #Cari_Aman adalah kunci utama keselamatan di jalan,” pungkasnya.




