SEMARANG, SemarangSatu.com – Cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pengguna jalan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena harus berhadapan langsung dengan terik matahari dalam waktu lama saat berada di jalan.
Kondisi tersebut kerap dirasakan pengendara yang melintas di jalur Pantura Jawa Tengah, mulai dari kawasan Pekalongan hingga Pati, maupun mereka yang setiap hari berkendara di tengah kepadatan lalu lintas Kota Semarang dan Solo. Suhu udara yang terus meningkat membuat perjalanan menjadi lebih melelahkan dibandingkan hari-hari biasa.
Saat cuaca terik, angin yang menerpa tubuh tidak lagi memberikan efek sejuk. Sebaliknya, udara panas justru mempercepat pengeluaran cairan tubuh sehingga pengendara lebih mudah mengalami kelelahan, kehilangan fokus, dan mengalami penurunan konsentrasi.
Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, mengatakan banyak pengendara belum menyadari bahwa cuaca panas dapat memengaruhi kemampuan tubuh dan otak dalam merespons situasi di jalan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dianalogikan seperti ponsel pintar yang mengalami overheat akibat terlalu lama terpapar sinar matahari.
“Pernahkah Anda meninggalkan ponsel pintar di bawah terik matahari? Dalam beberapa menit saja perangkat akan mengalami overheat, performanya menurun, bahkan bisa mati mendadak. Tubuh manusia memiliki mekanisme yang hampir sama,” ujar Oke.
Ia menjelaskan, ketika seseorang berkendara dalam suhu yang sangat tinggi, tubuh harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil.
Jantung akan memompa darah lebih cepat ke permukaan kulit agar panas tubuh dapat dilepaskan melalui keringat. Namun proses tersebut juga membuat cairan tubuh berkurang lebih cepat.
Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, dehidrasi mulai terjadi. Pada tahap awal, kondisi ini sering kali tidak disadari pengendara karena hanya ditandai rasa lelah atau sedikit pusing.
Padahal, dampaknya dapat berkembang menjadi lebih serius.
“Otak akan mengalami penurunan kemampuan merespons. Pengendara bisa kehilangan fokus, pandangan mulai terganggu, dan reaksi terhadap kondisi lalu lintas menjadi lebih lambat,” jelasnya.
Salah satu risiko paling berbahaya adalah munculnya microsleep atau tidur singkat tanpa disadari.
Microsleep terjadi ketika otak kehilangan kesadaran selama beberapa detik akibat kelelahan yang berlebihan.
Meskipun berlangsung sangat singkat, kondisi tersebut dapat berakibat fatal bagi pengendara sepeda motor.
Oke menjelaskan, pada kecepatan 60 kilometer per jam, sepeda motor dapat melaju sekitar 16,6 meter setiap detik.
Artinya, apabila pengendara mengalami microsleep selama tiga detik saja, kendaraan akan bergerak tanpa kendali sejauh hampir 50 meter.
Dalam jarak tersebut, berbagai kemungkinan buruk dapat terjadi, mulai dari menabrak kendaraan lain, keluar jalur, hingga kehilangan kendali saat menghadapi tikungan atau hambatan di depan.
“Jarak 50 meter tanpa kendali sudah lebih dari cukup untuk menyebabkan kecelakaan serius,” katanya.
Selain memicu microsleep, cuaca panas juga dapat menyebabkan gangguan visual sementara yang dikenal sebagai fatamorgana.
Fenomena ini sering terlihat sebagai genangan air semu di permukaan jalan yang sebenarnya tidak ada.
Kondisi tersebut dapat mengganggu persepsi pengendara terhadap situasi di depannya.
Karena itu, pengendara diminta tidak memaksakan diri apabila mulai merasakan tanda-tanda kelelahan.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sering menguap, leher terasa kaku, mata terasa berat, serta sulit mempertahankan fokus saat berkendara.
Menurut Oke, kondisi tersebut merupakan sinyal alami dari tubuh yang tidak boleh diabaikan.
Ia mengingatkan pengendara untuk segera mencari tempat aman guna beristirahat apabila gejala tersebut mulai muncul.
“Kalau tubuh sudah memberi sinyal lelah, jangan dilawan dengan menambah kecepatan agar cepat sampai. Menepilah di tempat aman dan istirahat sejenak,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko kecelakaan saat cuaca panas, Astra Motor Jateng mengimbau pengendara menerapkan pola hidrasi yang baik selama perjalanan.
Pengendara disarankan minum air secara berkala dan tidak menunggu hingga merasa haus.
Sebab rasa haus merupakan tanda awal tubuh mulai mengalami kekurangan cairan.
Pengendara juga dianjurkan berhenti setiap 60 hingga 90 menit untuk beristirahat sekaligus memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
Selain itu, penggunaan perlengkapan berkendara yang tepat juga menjadi faktor penting.
Jaket dengan sirkulasi udara yang baik, helm yang nyaman, serta visor yang bersih dapat membantu mengurangi dampak paparan panas dan silau matahari selama perjalanan.
Menurut Oke, keselamatan berkendara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengendalikan kendaraan, tetapi juga kemampuan menjaga kondisi fisik dan mental tetap prima.
“Berkendara di jalan raya bukan sekadar soal keterampilan memutar tuas gas atau kemahiran bermanuver. Esensi tertinggi keselamatan berkendara adalah manajemen energi tubuh dan kontrol emosi serta selalu mengutamakan prinsip #Cari_Aman,” pungkasnya.




