Polri Terjunkan Bhabinkamtibmas Berantas TBC, Jawa Tengah Masuk Tiga Besar Kasus Tertinggi

Polri Terjunkan Bhabinkamtibmas Berantas TBC, Jawa Tengah Masuk Tiga Besar Kasus Tertinggi (Foto: Ist)

SEMARANG, SemarangSatu.com – Program Bhabinkamtibmas Berantas TBC resmi dijalankan Polda Jawa Tengah sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah menekan penyebaran tuberkulosis atau TB paru di Indonesia. Melalui program bertajuk “Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru”, ribuan Bhabinkamtibmas disiapkan menjadi tracer kasus TBC hingga tingkat desa.

Program tersebut diluncurkan dalam kegiatan pelatihan Bhabinkamtibmas Tracer TB Paru di Gedung Borobudur Mapolda Jateng, Senin (25/5/2026). Kegiatan dihadiri Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, Wakapolda Jateng Brigjen Pol Latif Usman, pejabat utama Polda Jateng, para Kapolres, hingga organisasi profesi kesehatan.

Kabiddokkes Polda Jateng Kombes Pol drg. Agung Hadi Wijanarko Sp.BM., MARS., FISQua mengatakan program tersebut dilatarbelakangi tingginya angka kasus TB di Indonesia yang masih menjadi persoalan serius.

“Berdasarkan data nasional, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi di dunia setelah India dengan jumlah penderita TB aktif mencapai sekitar 1 juta jiwa. Indonesia juga menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia,” kata Kabiddokkes, Sabtu (23/5/2026).

Ia menjelaskan angka keberhasilan penanganan TB di Indonesia saat ini masih berada pada angka 86 persen, sedangkan cakupan tracing atau penemuan kasus baru masih sekitar 77 persen sehingga perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

“Angka keberhasilan program penanganan TB di Indonesia masih berada pada angka 86 persen, sedangkan cakupan tracing atau penemuan kasus baru masih sekitar 77 persen sehingga perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor,” tambahnya.

Menurut Agung, Jawa Tengah sendiri menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus TB tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Situasi Tuberkulosis Indonesia Tahun 2025, Jawa Tengah menempati posisi ketiga nasional dengan total 105.428 kasus TB paru.

“Jawa Tengah tercatat menjadi provinsi ketiga dengan kasus TB paru terbanyak di Indonesia setelah Jawa Barat sebanyak 150 ribu kasus dan Jawa Timur sebanyak 120 ribu kasus,” ungkapnya.

Ia menambahkan lima daerah dengan jumlah kasus tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2026 yakni Kabupaten Brebes sebanyak 8.291 kasus, Kabupaten Banyumas 7.517 kasus, Kabupaten Tegal 6.750 kasus, Kota Semarang 6.390 kasus, dan Kabupaten Cilacap sebanyak 6.261 kasus.

Sebagai langkah konkret, Polda Jateng melaksanakan program Polri Tracing TB Paru dengan melatih para Bhabinkamtibmas menjadi tracer kasus TB di lapangan. Mereka nantinya bertugas membantu tracing terhadap orang-orang terdekat penderita TB paru sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Bhabinkamtibmas nantinya diharapkan mampu membantu tracing kasus TB paru di masyarakat sekaligus memberikan edukasi dan komunikasi yang efektif agar masyarakat mau melakukan pemeriksaan dan menjalani pengobatan sampai tuntas,” ujar Agung.

Tidak hanya itu, Polda Jateng juga meluncurkan berbagai program pendukung seperti distribusi buku saku pedoman Bhabinkamtibmas Tracer TB, penyediaan KIT TB paru, hingga pengoperasian mobil dan motor jemput pasien TB untuk membantu akses layanan kesehatan masyarakat.

Selain dibekali kemampuan tracing, para Bhabinkamtibmas juga mendapatkan pelatihan komunikasi persuasif dan public speaking agar mampu membangun pendekatan humanis kepada warga yang diduga terpapar TB paru.

Dalam program tersebut juga diperkenalkan slogan TOSS atau Temukan, Obati Sampai Sembuh sebagai kampanye meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya dan penanganan TB paru.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo menegaskan persoalan TBC bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“TBC ini menjadi pekerjaan kita bersama. Tidak hanya Dinas Kesehatan dan organisasi kesehatan, tetapi seluruh elemen masyarakat harus bersinergi untuk mengeliminasi penyakit ini,” tutur Kapolda.

Menurutnya, kedekatan Bhabinkamtibmas dengan masyarakat menjadi modal penting dalam membantu mendeteksi kasus lebih dini sekaligus memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas.

“Maknai program ini sebagai semangat kemanusiaan sehingga kehadiran kita benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pesannya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto mengatakan keterlibatan Polri dalam program tersebut merupakan bentuk kepedulian institusi terhadap kesehatan masyarakat sekaligus penguatan peran preventif dan humanis Polri.

“Program Polda Jateng Peduli Berantas TB Paru ini merupakan bentuk kolaborasi dan kepedulian Polri dalam mendukung eliminasi TB di Indonesia. Kami mengoptimalkan peran Bhabinkamtibmas sebagai tracer di lapangan untuk membantu menemukan kasus lebih dini, melakukan edukasi kepada masyarakat, serta memastikan penderita TB mendapatkan akses pengobatan yang tepat,” ujar Artanto.

Ia menilai keberhasilan penanganan TB tidak dapat dilakukan sektor kesehatan saja, namun membutuhkan sinergi lintas sektor dan dukungan masyarakat luas.

“Melalui sinergi lintas sektor, kami berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya TB semakin meningkat sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat, angka penularan dapat ditekan,” pungkasnya.

Artanto juga menegaskan bahwa Polda Jateng berkomitmen hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui program yang menyentuh langsung kebutuhan publik.

“Penanganan TB paru bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, kami mendukung penuh langkah Biddokkes bersama stakeholder terkait dalam memperkuat edukasi, tracing, dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” pungkas Kombes Pol Artanto.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *