Teliti Ketombe Hijab, Peneliti ParagonCorp Shania Rizki Ivany Raih Juara 2 di SICS Summit 2026

Teliti Ketombe Hijab, Peneliti ParagonCorp Shania Rizki Ivany Raih Juara 2 di SICS Summit 2026 (Foto: Ist)

Dari Balik Hijab, Penelitian Ketombe Hijab Raih Juara di SICS Summit 2026

JAKARTA, SemarangSatu.TOP – Penelitian ketombe hijab yang dilakukan Shania Rizki Ivany, peneliti R&D ParagonCorp, berhasil meraih Juara 2 Oral Presentation di SICS Summit 2026. Penelitian ini menyoroti persoalan ketombe pada kulit kepala perempuan berhijab, sebuah konteks yang jarang diteliti secara ilmiah.

Penelitian berjudul Managing Dandruff Under Hijab-Wearing Conditions: Clinical and Antimicrobial Evaluation of a Piroctone Olamine–Botanical Amino Acid-Based Shampoo itu dievaluasi melalui pendekatan klinis dan antimikroba. Formula yang diteliti berbasis piroctone olamine dan botanical amino acid.

SICS Summit 2026 berlangsung pada 2–3 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang. Forum ini mempertemukan ilmuwan dan profesional kosmetik dari Indonesia dan berbagai negara. Acara diselenggarakan oleh Society of Indonesian Cosmetic Scientists (SICS), asosiasi yang terhubung dengan International Federation of Societies of Cosmetic Chemists (IFSCC).

Mengapa Penelitian Ketombe Hijab Penting?

Bagi sebagian perempuan yang mengenakan hijab, rambut dan kulit kepala berada dalam kondisi tertutup selama sebagian aktivitas sehari-hari. Kondisi itu menjadi konteks yang menarik untuk dipelajari dalam penelitian kosmetik. Termasuk bagaimana kebutuhan perawatan kulit kepala dapat dipahami dengan mempertimbangkan kebiasaan dan pengalaman pengguna.

Penelitian ketombe hijab ini menggunakan pendekatan clinical evaluation dan antimicrobial evaluation. Tujuannya mempelajari pengelolaan ketombe pada kondisi berhijab. Formula yang diteliti berbasis piroctone olamine dan botanical amino acid, dengan perhatian pada aspek ilmiah yang berkaitan dengan kondisi kulit kepala dan ketombe.

“Sebagai peneliti, kami mencoba melihat kebutuhan pengguna bukan hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga memahami konteks di baliknya. Kondisi berhijab menjadi salah satu konteks yang menarik untuk dipelajari secara ilmiah,” ujar Shania.

Belajar dari Presentasi Langsung

Shania mengaku presentasi secara langsung memberi kesempatan untuk menjelaskan proses penelitian sekaligus mendengar pertanyaan dan perspektif dari scientist lain.

“Bagi saya, masukan tersebut penting karena penelitian tidak berhenti ketika hasilnya diperoleh. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari bagaimana orang lain melihat pertanyaan yang sama dari perspektif yang berbeda,” katanya.

Konteks Penggunaan Jadi Kunci

dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., FINSDV, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, menekankan pentingnya memahami konteks penggunaan produk.

“Dalam penelitian kosmetik, memahami kebutuhan manusia berarti juga memahami konteks di mana produk digunakan. Setiap konteks dapat menghadirkan pertanyaan yang berbeda dan membutuhkan pendekatan ilmiah yang tepat,” ujarnya.

Sebanyak 13 peneliti R&D ParagonCorp berpartisipasi dalam SICS Summit 2026 melalui kategori oral presentation dan poster presentation. Melalui para penelitinya, ParagonCorp terus membuka ruang bagi sains untuk kebaikan yang lebih besar.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *