Kala Gen Z Jadi Mama Muda, Psikolog Ingatkan Jangan Serba Medsos
SEMARANG, SemarangSatu.com – Generasi Z kini mulai memasuki fase menjadi orang tua dan menghadapi tantangan baru dalam mengasuh anak di tengah derasnya informasi dari media sosial. Beragam teori parenting yang berseliweran di internet justru berpotensi membuat orang tua bingung hingga overthinking.
Psikolog Indah Sundari Jayanti, S.Psi., M.Psi., mengatakan pola asuh di era digital memang terlihat lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, menurutnya, kondisi tersebut bukan berarti Gen Z harus menerapkan seluruh metode parenting yang mereka temukan di media sosial.
“Kalau dibilang pola asuh lebih ribet mungkin bukan lebih ribet, tapi memang zaman sekarang kan zaman yang internet, digital. Jadi semua orang bisa belajar dari internet tentang adanya berbagai macam pilihan pola asuh,” kata Indah dalam kegiatan Early Life Nutrition (ELN) 2026: Next Gen(re)parenting, Masa Depan Dimulai Sekarang di Pandanaran Ballroom 3, Padma Hotel Semarang, Sabtu (5/9/2026).
Indah menegaskan, tidak ada pola asuh yang sepenuhnya benar maupun sepenuhnya salah. Pengasuhan harus disesuaikan dengan kondisi anak, orang tua, serta lingkungan tempat keluarga tersebut berada.
“Pola asuh itu tidak ada yang 100 persen benar, tidak ada yang 100 persen salah. Kita harus kembalinya pada apa? Menyesuaikan pada situasi dan kondisi anak kita dan situasi serta kondisi kitanya sendiri secara personal,” ujarnya.
Menurut Indah, banyaknya informasi parenting di media sosial justru dapat membuat orang tua Gen Z merasa harus mengikuti standar tertentu dalam mengasuh anak.
Padahal, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu memahami anak secara langsung, bukan sekadar mengikuti tren pola asuh yang sedang populer di media sosial.
Ia mencontohkan konsep gentle parenting yang belum tentu dapat diterapkan secara sama dalam setiap lingkungan keluarga.
“Misalnya kita hidup di lingkungan militer, orang tua kita militer, kita militer, anak kita hidup di lingkungan rumah dinas militer. Agak sulit kalau misalnya kita memberikan pola asuh yang gentle parenting. Jadi mungkin memang kita harus lebih tegas,” jelasnya.
Indah juga menekankan pentingnya kehadiran orang tua secara emosional. Kehadiran tersebut bukan sekadar berada di dekat anak secara fisik, tetapi juga membangun komunikasi dan memahami perasaan serta pemikiran anak.
Orang tua, lanjut dia, memang boleh memiliki harapan terhadap masa depan anak. Namun, harapan tersebut harus tetap mempertimbangkan kapasitas, kepribadian, dan keinginan anak.
“Boleh kita punya ekspektasi, berharap anak ingin jadi seperti apa, tapi hadir secara emosional itu juga menjadi faktor yang bisa membuat kita berkomunikasi sama anak,” katanya.
Kehadiran emosional tersebut dapat dilakukan melalui percakapan, bertukar pikiran, pendapat, maupun perasaan dengan anak. Dengan demikian, orang tua dapat menyampaikan harapannya sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk memiliki keinginan sendiri.
Selain persoalan pola asuh, Indah mengatakan orang tua juga tidak perlu merasa bersalah ketika harus menitipkan anak kepada anggota keluarga lain atau daycare karena tuntutan pekerjaan.
Menurutnya, yang terpenting adalah orang tua tetap menjadi pihak utama yang memantau perkembangan anak.
“Walaupun kita titip di mertua, di orang tua ataupun di keluarga, kita tetap harus memberikan ketegasan bahwa anak saya itu makannya harus ini, harus apa, jam berapa. Yang menegakkan aturannya tetap kita,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan dokter spesialis anak dr. Hendra Wardhana, Sp.A. Ia mengingatkan mama muda dari kalangan Gen Z agar tidak berhenti belajar mengenai kebutuhan anak, tetapi juga tidak menelan mentah-mentah informasi yang diperoleh dari media sosial.
“Pesan saya buat para Gen Z, buat mama-mama muda adalah terus belajar. Anak itu mungkin dalam tanda kutip belum tahu apa-apa. Sebagai orang tua kita yang mengarahkan, sehingga kita sebagai orang tua harus belajar,” kata Hendra.
Menurut Hendra, orang tua perlu belajar mengenali kebutuhan anak, memberikan stimulasi yang sesuai, sekaligus memahami nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang.
Namun, ia mengingatkan agar media sosial tidak dijadikan rujukan utama ketika orang tua menghadapi persoalan kesehatan atau perkembangan anak.
“Sebenarnya kita tidak bisa telan mentah-mentah referensi medsos karena balik lagi, justru kalau saya perhatikan medsos ini malah jadi membuat orang tua banyak yang overthinking,” ujarnya.
Hendra menyarankan orang tua berkonsultasi langsung kepada tenaga profesional ketika memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan anak.
“Kalau anak kita memang ada pertanyaan, langsung ke ahlinya. Misalkan ke dokter anak atau masalah psikologi anak ya langsung ke psikolog,” tegasnya.
Sementara itu, pengalaman menjadi ibu juga dibagikan momfluencer Patricia Gouw. Ia mengatakan proses menjadi orang tua membuat dirinya terus belajar mengenai kebutuhan anak, termasuk soal nutrisi, kesehatan, kemandirian, dan pola pengasuhan.
Patricia bahkan berusaha membiasakan anaknya melakukan berbagai aktivitas sederhana di rumah agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri.
Menurutnya, menjadi orang tua di era sekarang memang membuat seseorang harus banyak belajar. Namun, pengetahuan tersebut tetap perlu disaring dan disesuaikan dengan kondisi anak.
Kegiatan ELN 2026: Next Gen(re)parenting, Masa Depan Dimulai Sekarang menjadi ruang edukasi bagi para orang tua untuk memahami tumbuh kembang anak, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah aspek dibahas, mulai dari perkembangan otak, kesehatan saluran cerna, risiko alergi, pemenuhan nutrisi hingga aspek psikologis dalam pengasuhan.
Pesan yang mengemuka bagi para mama muda Gen Z adalah menjadi orang tua tidak berarti harus mengikuti semua tren parenting di media sosial. Yang lebih penting adalah terus belajar, memahami kebutuhan anak, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi keluarga serta berkonsultasi dengan ahli ketika diperlukan.




