Nazla Mariza: 96 Persen Perempuan Punya HP, tapi Hanya 31 Persen untuk Usaha
SEMARANG, SemarangSatu.com – DBS Foundation bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia menyelenggarakan Learning Event “Cakap Teknologi ke Pasar Digital” di Aula Balai Kota Semarang, Senin, 28 September 2026. Acara ini menjadi bagian dari program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation yang menargetkan 40.000 perempuan pemilik dan pengelola UMKM di tiga kota besar.
Kegiatan ini dihadiri sekitar 800 peserta, termasuk 600 perempuan pemilik dan pengelola usaha mikro dan kecil peserta program, perwakilan pemerintah daerah, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, akademisi, serta media.
Program ini bertujuan meningkatkan ketahanan dan kesehatan keuangan 40.000 perempuan pemilik atau pengelola UMKM di Kota Semarang, Surabaya, dan Medan hingga 30 September 2027. Sejak diluncurkan pada Oktober 2025 hingga Agustus 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 20.000 perempuan pelaku usaha mikro dan kecil.
Fokus pada Inklusi Finansial dan Pemberdayaan Perempuan
Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, mengatakan bahwa mendorong inklusi finansial dan pemberdayaan perempuan merupakan fokus utama DBS Foundation.
“Melalui program Financial Inclusion for Women Entrepreneurs powered by DBS Foundation, kami berharap semakin banyak perempuan pelaku UMKM memiliki akses terhadap pengetahuan, layanan, dan produk keuangan yang dapat membantu mereka meningkatkan ketahanan usaha, memenuhi kebutuhan dasar keluarga, dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.

Kesenjangan Digital Jadi Tantangan
Nazla Mariza, SVP Impact and Beyond Banking Group Marketing and Communication PT Bank DBS Indonesia, mengungkapkan bahwa program ini merupakan program jangka panjang dua tahun. Fokusnya melatih dan mendampingi 40.000 perempuan pelaku atau pemilik usaha mikro dan kecil.
“Targetnya untuk pertama kita melatih dulu dari literasi keuangan, kemudian mereka bagaimana caranya mengakses produk dan layanan keuangan yang legal, yang diawasi oleh OJK. Kemudian kita dampingi lagi literasi digital dan juga pemasaran di dunia digital,” ujarnya.
Menurut Nazla, dari total UMKM di Jawa Tengah yang mencapai 30.000 lebih, sekitar 60 persennya adalah perempuan. Berarti sekitar 18.000-an pelaku UMKM perempuan. Tahun ini, program sudah mendampingi 7.000 peserta.
“Jadi artinya kita akan berkontribusi untuk meningkatkan kapasitas perempuan pelaku usaha mikro sekitar 15.000 selama 2 tahun,” jelasnya.
Nazla menyoroti adanya kesenjangan digital. Dari data yang dimilikinya, 96 persen perempuan memiliki HP dan mengakses internet rata-rata 5 jam sehari. Namun, yang menggunakannya untuk usaha, bisnis, atau digital marketing hanya 31 persen.
“Ini artinya ada kesenjangan antara akses dengan pengetahuan dan pemanfaatannya untuk usaha,” katanya.
Kendalanya, pertama, mereka belum tahu. Kedua, belum percaya diri karena takut digital scamming atau cyber crime. Ketiga, terlalu nyaman dengan toko konvensional fisik.
“Nah, ini yang kita coba untuk buka pikirannya. Karena orang akan menjadi PD ketika dia sudah semakin tahu, semakin praktiknya berhasil,” ujarnya.
Pendampingan dan Platform Mentor
Ade Soekadis, Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, menjelaskan bahwa program ini menggabungkan antara pelatihan dan pendampingan. Selain pelatihan literasi keuangan, literasi digital, dan layanan keuangan, para perempuan UMKM juga mendapatkan pendampingan pada waktu tertentu.
“Kita mempunyai fasilitator yang bisa mendampingi Ibu-ibu. Dan juga kita mempunyai platform digital namanya platform mentor. Di mana UMKM yang on board di sana bisa secara mandiri terkoneksi dengan fasilitator atau mentor,” jelasnya.
Tantangan utama UMKM, menurut Ade, bukan hanya mendapatkan ilmu, tetapi menerapkannya. “Kalau teori mungkin gampang. Tapi yang menjadi tantangan ialah bagaimana ilmu tadi diterapkan. Inilah butuh pendampingan.”
Tantangan kedua adalah akses ke pasar. “Bagaimana mendapatkan akses ke pasar yang bisa menyerap produk-produk tersebut. Positioning dari produk sehingga laku di pasar digital maupun non-digital.”
Tantangan ketiga adalah akses modal. “Banyak UMKM belum punya catatan keuangan yang baik sebagai syarat untuk pinjaman. Tanpa catatan keuangan yang baik, enggak mungkin bank akan percaya.”
Ade juga menyoroti bahwa mayoritas UMKM adalah usaha mikro. “Kalau jumlah UMKM dibandingkan jumlah unit usaha bisnis, 99,9 persen. Dari 99 persen itu, di atas 90 persen adalah usaha mikro.”
Terkait inklusivitas, Ade menegaskan bahwa program ini juga menjangkau penyandang disabilitas. “Kita punya program khusus. Bagaimana kita bisa menjangkau mereka yang disabilitas, perempuan-perempuan disabilitas, supaya mereka bisa berpartisipasi dan tidak tertinggal.”

Rangkaian Learning Event
Learning Event di Semarang mengusung dua tema utama diskusi panel. Sesi pertama membahas “Perkuat Literasi Digital sebagai Strategi Efektif untuk Mendukung Perempuan Pemilik/Pengelola Usaha Mikro dan Kecil di Perkotaan”. Sesi kedua berfokus pada penggunaan saluran pemasaran digital dan pengelolaan keuangan usaha.
Acara juga dilengkapi dengan Bazar UMKM yang menampilkan 35 booth peserta program, testimoni pelaku usaha, serta interaktif doorprize dan business challenge.
Pembelajaran dari rangkaian learning event di Medan, Semarang, Surabaya, dan Jakarta akan dihimpun dalam learning document yang berisi rekomendasi strategi efektif. Dokumen tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Kementerian UMKM Republik Indonesia.
Rangkaian learning event ini akan berlanjut di kota-kota lain hingga akhir September 2026.




