Calon Pengantin di Kabupaten Semarang Tanam 6.600 Pohon, Program Pohon Cinta Ubah Momentum Nikah Jadi Aksi Jaga Lingkungan
SEMARANG, SemarangSatu.com – Calon pengantin di Kabupaten Semarang kini tidak hanya mempersiapkan hari bahagia menuju pernikahan, tetapi juga ikut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Melalui Program Pohon Cinta yang digagas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Semarang, setiap pasangan diajak menanam sedikitnya satu pohon sebagai simbol cinta sekaligus kepedulian terhadap bumi.
Gerakan yang mulai diterapkan sejak September 2025 itu telah menunjukkan hasil nyata. Hingga pertengahan Juli 2026, sekitar 6.600 pohon telah ditanam oleh pasangan calon pengantin di berbagai wilayah Kabupaten Semarang. Dengan rata-rata lebih dari 30 pasangan menikah setiap hari, jumlah pohon yang terus bertambah diproyeksikan semakin memperkuat upaya penghijauan daerah.
Program Pohon Cinta resmi diluncurkan Kemenag Kabupaten Semarang bersama Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Semarang dalam kegiatan bertajuk Menanam Hati, Merajut Bumi: Sedekah Oksigen untuk Semesta dan Dekapan Kasih bagi Jiwa yang Rentan di MTs Tahfidzul Qur’an Nurul Islam Wonokerto, Kecamatan Bancak, Selasa (14/7/2026).
Peluncuran ditandai dengan penyerahan simbolis bibit pohon dari pasangan calon pengantin kepada Wakil Bupati Semarang Nur Arifah yang kemudian diteruskan kepada keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Setelah itu, peserta melakukan penanaman pohon di halaman madrasah, lapangan, dan kawasan embung.
Program Pohon Cinta Sudah Hasilkan 6.600 Pohon
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Semarang Ta’yinul Biri Bagus Nugroho mengatakan Program Pohon Cinta sejatinya telah berjalan hampir satu tahun sebagai proyek percontohan sebelum diluncurkan secara resmi.
Menurutnya, program tersebut merupakan pengembangan dari Program CIKAL yang pernah diterapkan di KUA, yakni calon pengantin membawa bibit kelapa saat mengurus administrasi pernikahan.
“Kami sebenarnya hanya menduplikasi gagasan para sesepuh kita. Dulu ada program CIKAL, sekarang kami menyesuaikannya menjadi Pohon Cinta. Kalau dulu membawa cikal kelapa, sekarang kami dorong menanam berbagai pohon produktif yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Program Pohon Cinta menjadi implementasi konsep ekoteologi yang merupakan salah satu program prioritas Menteri Agama RI Prof. Dr. Nasaruddin Umar.
“Tidak disebut orang beriman ketika tidak mencintai alam. Rasulullah SAW juga mengajarkan, sekalipun kiamat akan datang sementara di tangan kita masih ada bibit tanaman, maka tanamlah. Artinya, menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah,” katanya.
Calon Pengantin Bebas Memilih Lokasi Penanaman
Ta’yinul menjelaskan, setiap calon pengantin dapat menentukan sendiri lokasi penanaman pohon, baik di halaman rumah, lahan keluarga, fasilitas umum, maupun melalui KUA agar disalurkan kepada masyarakat.
Namun, proses penanaman wajib didokumentasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban bahwa bibit benar-benar ditanam.
Ia juga mengingatkan agar pohon yang ditanam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Pak Bupati berpesan kepada kami, pohon jangan hanya ditanam lalu ditinggalkan. Harus dirawat sampai tumbuh besar. Karena tujuan kita bukan sekadar menanam, tetapi menghadirkan manfaat yang terus hidup,” ujarnya.
Selain mendukung penghijauan, Kemenag Kabupaten Semarang mendorong calon pengantin membeli bibit dari sentra pembibitan di kecamatan masing-masing sehingga program ini juga memberi dampak ekonomi bagi para petani bibit.
“Kalau Kecamatan Bancak terkenal dengan bibit kelengkeng, maka belilah kelengkeng di Bancak. Jangan sampai warga Bancak membeli bibit ke kecamatan lain. Dengan begitu, lingkungan terjaga sekaligus ekonomi masyarakat ikut bergerak,” katanya.
Pemkab Semarang Apresiasi Gerakan Pengantin Tanam Pohon
Wakil Bupati Semarang Nur Arifah menyambut baik Program Pohon Cinta karena dinilai mampu menggabungkan pelayanan keagamaan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, capaian sekitar 6.600 pohon membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Kami sangat terbantu dengan program ini. Bayangkan jika setiap hari ada lebih dari 30 pasangan menikah, berarti setiap hari pula ada lebih dari 30 pohon baru yang ditanam di Kabupaten Semarang,” ujarnya.
Ia berharap Program Pohon Cinta berkembang menjadi budaya baru di Kabupaten Semarang sehingga setiap pernikahan tidak hanya melahirkan keluarga sakinah, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi lingkungan.
Sementara itu, calon pengantin asal Dusun Kalisari, Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Mujib Ikhtirom, mengaku mendukung penuh program tersebut. Bersama pasangannya, ia memilih menanam bibit alpukat sebagai simbol awal kehidupan rumah tangga.
“Saya mendukung program ini karena pohon memiliki banyak manfaat, mulai mengurangi polusi udara sampai membantu mencegah longsor. Harapannya pohon yang kami tanam bisa tumbuh, menghasilkan, dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujarnya.




