SEMARANG, SemarangSatu.com – Kesempatan untuk menguasai keterampilan di bidang teknologi kini terbuka bagi penyandang disabilitas. Sebanyak 10 penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti pelatihan teknisi handphone yang digelar LPK Quantum Telecommunication di Kota Semarang.
Pelatihan tersebut menjadi angkatan atau batch kedua setelah program serupa sebelumnya berhasil melahirkan sejumlah teknisi handphone dari kalangan penyandang disabilitas.
Kegiatan berlangsung di LPK Quantum Telecommunication, Jalan Bina Remaja Nomor 4, Banyumanik, Kota Semarang.
Selama tujuh hari, para peserta mendapatkan pelatihan intensif mulai dari pengenalan alat kerja, mengenali komponen handphone, menganalisis kerusakan perangkat hingga praktik langsung memperbaiki ponsel.
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan menjalani program magang selama satu bulan di sejumlah konter servis yang telah disiapkan penyelenggara.
Owner LPK Quantum Telecommunication, Tomi Sudiarso, mengatakan program tersebut sengaja dirancang untuk membuka peluang usaha bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, seluruh biaya pelatihan ditanggung sponsor sehingga peserta dapat mengikuti kegiatan tanpa dipungut biaya.
Bahkan setelah pelatihan selesai, peserta juga mendapatkan bantuan peralatan servis sebagai modal awal membuka usaha.
“Yang pertama alhamdulillah sudah sukses, magangnya selesai, dan sekarang mereka itu buka usaha di rumahnya masing-masing. Yang mana peralatannya kita kasih,” kata Tomi Sudiarso.
Ia menjelaskan, setiap angkatan diikuti 10 peserta penyandang disabilitas.
Pada batch pertama, seluruh peserta berhasil menyelesaikan pelatihan dan sebagian besar kini telah membuka usaha servis handphone secara mandiri dari rumah.
Keberhasilan tersebut mendorong penyelenggara kembali membuka batch kedua dengan jumlah peserta yang sama.
Salah satu peserta, Suwanto, mengaku tertarik mengikuti pelatihan karena melihat peluang ekonomi yang cukup besar dari usaha servis handphone.
Pria yang selama ini berprofesi sebagai mekanik motor tersebut mengatakan dirinya tidak akan meninggalkan pekerjaan lamanya.
Sebaliknya, ia ingin memiliki sumber penghasilan tambahan melalui keterampilan baru yang sedang dipelajarinya.
“Karena yang saya kejar adalah money. Menambah lagi wirausaha yang lain lagi. Menambah income masuk lagi,” ujar Suwanto.
Menurutnya, memperbaiki handphone memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dibanding memperbaiki sepeda motor.
Jika pada kendaraan bermotor ia terbiasa menangani komponen besar, pada handphone ia harus berhadapan dengan komponen kecil yang membutuhkan ketelitian tinggi.
“Kalau motor kan sudah terbiasa untuk merancang. Kalau ini kelihatannya lebih mendetail,” katanya.
Pada hari pertama pelatihan, peserta diperkenalkan dengan berbagai alat teknisi seperti alat pengukur tegangan baterai hingga mikroskop untuk melihat komponen elektronik berukuran kecil.
Selain peserta baru, program tersebut juga menghadirkan alumni batch pertama sebagai bukti keberhasilan pelatihan.
Salah satunya adalah Sodik Maskuri, penyandang disabilitas asal Tengaran, Kabupaten Semarang.
Pria berusia 33 tahun itu mengaku memperoleh banyak manfaat setelah mengikuti pelatihan pada angkatan pertama.
Sebelum mengikuti pelatihan, ia telah memiliki kemampuan memperbaiki berbagai peralatan elektronik rumah tangga.
Namun setelah mempelajari servis handphone, keterampilannya bertambah dan membuka peluang usaha baru.
“Setelah ada pelatihan servis ini, alhamdulillah menambah skill saya dan insyaallah menambah rezeki saya,” kata Sodik.
Kini ia telah membuka layanan servis handphone secara mandiri di rumahnya.
Berbagai kerusakan perangkat Android seperti penggantian konektor pengisian daya, baterai, LCD hingga tombol perangkat sudah mampu ditanganinya.
Meski demikian, ia mengaku belum berani menerima servis iPhone karena membutuhkan kemampuan yang lebih tinggi.
Karena itu ia tertarik mengikuti kelas lanjutan yang akan diselenggarakan oleh LPK Quantum.
Menurut Sodik, pelatihan seperti ini sangat jarang ditemui oleh penyandang disabilitas.
Ia merasa terbantu karena tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga memperoleh perlengkapan kerja untuk memulai usaha.
“Pelatihan handphone itu agak susah bagi disabilitas. Apalagi di LPK Quantum ini memberikan semangat bagi disabilitas karena membuka pelatihan secara gratis dan dibekali alat komplit,” ujarnya.
Tomi Sudiarso mengatakan materi pelatihan dibagi dalam dua tingkatan.
Level pertama berisi keterampilan dasar seperti penggantian LCD, baterai dan casing.
Sedangkan level kedua mengajarkan peserta melakukan analisis kerusakan yang lebih kompleks menggunakan alat ukur elektronik.
Saat ini materi masih difokuskan pada perangkat Android karena menjadi jenis ponsel yang paling banyak digunakan masyarakat.
Namun ke depan, peserta yang telah menguasai materi dasar akan mendapat kesempatan belajar memperbaiki iPhone.
“Nanti akan ada kelas berikutnya yang iPhone. Tentu setelah mereka menguasai yang dasarnya dulu,” kata Tomi.
Ia memastikan peserta yang ingin meningkatkan kemampuan ke tingkat lebih lanjut tetap akan mendapatkan kesempatan belajar secara gratis.
Harapannya, semakin banyak penyandang disabilitas yang memiliki keterampilan, mampu mandiri secara ekonomi, serta membuka peluang usaha dari rumah masing-masing.
“Yang penting mereka punya keinginan, mau belajar, kita kasih fasilitas,” pungkasnya.




